Rabu, 14 September 2022

Modul 1.4 Aksi Nyata

 Membangun Budaya Positif di Kelas



1.1 Latar Belakang

 Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif, Di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter peserta didik ke arah yang positif. Budaya Positif di sekolah sangatlah penting untuk mengembangkan peserta didik yang memiliki karakter kuat dan berakhlak sesuai profil pelajar pancasila  seperti yang  dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan di Indonesia. Budaya positif dapat dibangun dengan syarat sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar peserta didik mampu berfikir, bertindak, dan mencipta secara merdeka, mandiri, dan bertanggungjawab.

Budaya positif perlu dibangun dalam suatu kelas yang akan berdampak pada budaya positif di sekolah dan berperan dalam visi sekolah. Mewujudkan budaya positif harus dilakukan sejak dini mengingat dalam prosesnya membutuhkan waktu yang lama dan konsisten dari setiap stakeholder yang ada. Sebagai guru penggerak, tentu memiliki peran yang besar dalam mewujudkan disiplin positif, baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah, guru dapat menerapkan budaya positif seperti bekerja sama dengan rekan sejawat, berinteraksi secara akrab dengan peserta didik, menerapkan sikap disiplin dan bertanggung jawab serta menjadi teladan bagi peserta didik. Sedangkan di lingkungan kelas, salah satu langkah yang guru dapat lakukan adalah membangun budaya positif

Salah satu strategi yang perlu ditinjau ulang adalah penerapan disiplin yang selama ini dijalankan di sekolah. Kesadaran akan penerapan disiplin belum berdasarkan motivasi internal, dimana pembiasaan positif yang diterapkan bukan disiplin positif, namun masih menganut sistem penghargaan dan hukuman. Model disiplin yang dibangun masih belum berpusat pada siswa selain itu posisi kontrol guru belum sampai pada tahap manajer melainkan sebagai penghukum dan pembuat siswa merasa bersalah. Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan siswa-siswa yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi internal. Siswa yang memiliki disiplin diri berarti mampu bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya. Bagaimana Peran kita sebagai pendidik dapat menumbuhkan disiplin diri pada diri siswa sehingga siswa mampu menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna, mengontrol diri, menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang dihargai.  Bagaimana budaya positif yang sudah ada disekolah berkembang menjadi karakter semua warga sekolah. Bagaimana pendidik menumbuhkembangkan budaya positif dalam mewujudkan karakter profil pelajar pancasila, dan bagaimana menerapkan disiplin restitusi di posisi monitor dan manajer sehingga lingkungan yang positif, aman dan nyaman dapat terwujud.

 

1.2.  Deskripsi Aksi Nyata

1.   Tujuan.

Adapun yang menjadi tujuan dalam tindakan nyata ini adalah sebagai berikut:

·         Terwujudnya visi sekolah melalui penerapan budaya positif.

·         Terbentuknya karakter disiplin.

·         Menumbuhkan dan menguatkan karakter positif melalui pembiasaan-pembiasaan positif.

·         Menumbuhkembangkan karakter profil pelajar pancasila yaitu pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai pamcasila.

·         Menguatkan peran sebagai guru penggerak melalui penerapan restitusi dalam menanamkan disiplin positif pada siswa.

 

2.      Tolak Ukur

Untuk mengetahui sejauh mana kegiatan ini sudah dilakukan dan untuk mengontrol kegiatan agar tetap tearah pada tujuan yang sudah ditetapkan, maka tolak ukur yang digunakan adalah sebagai berikut :

  • Terbentuknya keyakinan kelas sebagai landasan dalam memecahkan permasalahan yang ada dikelas. Keyakinan kelas ini dibentuk dan disepakati oleh peserta didik bersama walikelas.
  • Konsistensi peserta didik dan walikelas dalam menjalankan keyakinan kelas.
  • Peserta didik sudah menunjukkan menguatnya karakter positif seperti religius, peduli, disiplin, toleransi, gotong royong dan bertanggungjawab pada proses pembelajaran maupun diluar proses pembelajaran.
  • Membudayanya 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun)
  • Munculnya karakter berdaya nalar kritis pada proses pembelajaran yang terlihat dari keaktifan peserta didik dalam bertanya, berpendapat/berargumen, dan menjawab pertanyaan dari guru.
  • Dokumentasi kegiatan pembentukan keyakinan kelas bersama peserta didik dan wali kelas, proses kegiatan restitusi, kegiatan kolaborasi dan sharing dengan walikelas dan rekan sejawat, serta hasil pengumpulan tugas.

 Untuk menjalankan tindakan aksi nyata ini dibutuhkan dukungan:

  • Kepala Sekolah dan rekan sejawat.
  • Orang tua dan komite sekolah.
  • Peserta didik.
  • Masyarakat sekitar.
  • Sarana dan prasarana sekolah yang memadai.
  • Media yang diperlukan

Dengan menjalin hubungan yang baik dan kemampuan berkomunikasi yang efektif dan persuatif, maka saya yakin akan mendapatkan dukungan dari kepala sekolah, rekan sejawat , pihak komite sekolah dan orang tua peserta didik serta masyarakat sekitar dalam menjalankan tindakan aksi nyata dalam rangka menumbuhkan budaya positif di sekolah. Sarana prasarana sekolah yang sudah memadai juga turut berkontribusi demi terwujudnya visi sekolah melalui penerapan budaya positif ini.

 

1.3. Hasil Aksi Nyata

            Adapun hasil dari tindakan aksi nyata yang sudah dilakukan adalah :

  1. Terbentuknya keyakinan kelas yang dibuat dan disepakati oleh peserta didik.
  2. Menguatnya karakter positif seperti religious, beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Menguatnya karakter peduli terhadap teman yang membutuhkan dukungan belajar.
  4. Menguatnya karakter bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan baik tugas mata pelajaran maupun yang berkaitan dengan kerapian dan kebersihan kelas.
  5. Menguatnya karakter gotong royong.
  6. Menguatnya karakter toleransi yang ditunjukkan dengan saling menghormati dan menghargai teman yang berbeda agama, suku, ciri fisik dan gender.

1.4. Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan

 Pembelajaran yang didapatkan dari pelaksanaan tindakan aksi nyata dalam membangun budaya  positif ini adalah:

1.      Pentingnya membuat keyakinan kelas untuk menumbuhkan motivasi internal pada diri peserta didik.

2.      Adanya dukungan dari dari berbagai pihak terkait, sarana dan prasarana yang memadai sangat berkontribusi dalam usaha membangun disiplin positif.

3.      Layanan restitusi dalam menyelesaikan permasalahan memfokuskan peserta didik untuk belajar dari kesalahan, menuntun untuk melihat ke dalam diri, memperbaiki hubungan, fokus pada karakter dan solusi.

4.      Untuk menerapkan displin restitusi, seorang guru harus mampu memposisikan diri sebagai manajer agar dapat membimbing siswa sehingga siswa mampu mengevaluasi diri bagaimana menjadi diri sendiri yang lebih baik.

 1.5. Rencana Perbaikan Untuk Pelaksanaan di masa mendatang

Setiap tiga bulan, butir-butir keyakinan kelas dievaluasi dan diperbaiki. Jika item butir-butir keyakinan kelas sudah membudaya, maka diganti dengan item lainnya sehingga akan semakin banyak item-item budaya positif yang dapat ditumbuhkan pada peserta didik. Selain itu perlu koordinasi dan kolaborasi dengan orang tua agar penanaman budaya positif lebih cepat terealisasi,berkembang dan  terawat.

 

 

Dokumentasi Kegiatan (terlampir) 

https://drive.google.com/drive/folders/1yxoGfNCJHsNVmlprlFNX0A3Zon5vCYjG?usp=sharing


 Oleh Desi Suryanti

CGP Angkatan 5 Kota Dumai

Minggu, 21 Agustus 2022

Modul 1.2 Aksi Nyata: Nilai dan Peran Guru: Upaya Dalam Membentuk Profil Pelajar Pancasila


     I.            Latar Belakang

Guru sesungguhnya memiliki kesempatan untuk menjadi teladan bagi muridnya. Kini, pilihannya adalah memanfaatkan kesempatan itu dengan sengaja atau membiarkannya lewat begitu saja dan tidak melakukan apa-apa. Menjadi teladan harus diusahakan secara sadar. Guru dengan karakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka mempercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka. Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakkan manusia yang lain.

 

   II.            Tujuan

Kompetensi guru penggerak adalah memimpin pembelajaran, namun bukan berarti guru sebagai pusat pembelajaran, melainkan mampu menggerakkan diri, rekan guru lain, sekolah, lingkungan untuk mewujudkan sekolah yang berorientasi pada siswa menerapkan merdeka belajar, siswa sebagai subyek dan bukan objek pembelajaran, mampu membangun komunikasi dengan baik dengan rekan guru untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, aman dan nyaman, mampu mengembangkan sistem dan aturan yang memastikan masukan aspirasi siswa sebagi pertimbangan utama dalam memutuskan suatu peraturan, mampu membuat kebijakan yang berpihak pada siswa, dan mampu mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif.

 

III.            Rencana Aksi Nyata

a. Memahami terlebih dahulu tentang nilai diri. Guru adalah manusia yang senantiasa selalu berusaha untuk menggerakkan manusia lain.  Untuk itu guru harus terlebih dahulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakan orang lain.

 b. Memahami dan melakukan pembiasaan peran guru penggerak sebagai alat untuk    mentransformasikan pendidikan sehingga terciptanya profil pelajar pancasila melalui merdeka belajar.

c. Menumbuh kembangkan didalam diri guru penggerak lima nilai yaitu Mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid yang kemudian diaplikasikan dalam berperilaku untuk seorang guru penggerak.

 

 

IV.            Hasil Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak

1.       Pemimpin Pembelajaran (Mandiri dan Inovatif)

Ciri Profil Pelajar Pancasila yang dicapai: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang telah dilakukan antara lain: sebagian aksi nyata kepemimpinan pembelajaran yang pernah di lakukan di sekolah pada saat proses belajar mengajar. Kegiatan dari pembelajaran adalah mentransfer ilmu dan tujuannya peserta didik bisa memahami.  Dalam hal ini yang pernah dilakukan adalah: menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan melakukan pemilihan metode dalam mengajar, dimana guru sebagai pemimpin pembelajaran menyiapkan peralatan praktikum yang akan digunakan sebagai media dalam pembelajaran serta membentuk kelompok.  Pembelajaran dilakukan secara berkelompok, Kemudian masing masing kelompok mempresentasikan hasil dari diskusi mereka. Dengan metode ini seluruh peserta didik aktif dan masing-masing memiliki peran dan pembelajaran diakhiri dengan pengambilan nilai. Dilihat dari hasil penilaian dapat disimpulkan pembelajaran berhasil. Dari uraian tersebut, kepemimpinan pembelajaran yang telah dilakukan yaitu :

a.         Memilih atau mengambil keputusan penentuan metode dalam pembelajaran

b.         Menyusun rencana berupa persiapan pembelajaran

c.         Pelaksanaan yaitu proses pelakasanaan belajar mengajar (PBM)

d.         Penilaian

 

2.         Menggerakkan Komunitas Praktisi

Ciri Profil Pelajar pancasila yang di capai: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang telah dilakukan antara lain:

1.    Menggerakkan komunitas praktik untuk rekan guru di sekolah dan wilayah kota Dumai. Seorang Guru Penggerak berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya. Banyaknya praktik baik yang bisa dibagikan dalam komunitas tersebut bisa menjadi bahan pembelajaran untuk para guru sejawat dan tentunya untuk Guru Penggerak tersebut juga. Dalam hal ini yang pernah dilakukan antara lain adalah mengikuti pelatihan Training Of Trainer Guru Inovatif dan Google Master Trainer yang nantinya sebagai penggerak guru-guru di kota Dumai.

2. Mengadakan In House Training (IHT) /pelatihan untuk meningkatkan mutu sekolah dan kompetensi guru-guru dengan mengundang beberapa pemateri yang sesuai bidangnya, hal ini sejalan dengan program-program pemerintah seperti Sekolah penggerak.

3.  Mengadakan Workshop/pelatihan untuk guru-guru dengan pemateri dari eksternal sekolah yang kompeten dalam bidangnya masing-masing, seperti antara lain mulmedia interaktif, assembler edu, canva for edu,penuusunan modul ajar dan lain sebagainya. 

4.    Mendorong guru-guru untuk mengikuti pelatihan pengembangan diri untuk kemudian dibagikan pengetahuannya kepada rekan lainnya.

5.    Berusaha mencarikan jalan keluar dari hal-hal yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan semua proses yang terjadi di sekolah dengan seefektif dan seefisien mungkin.

Semua hal itu tentunya atas izin dan sepengetahuan serta arahan pimpinan. Demikian secara garis besar beberapa hal-hal yang sudah dilakukan dalam upaya menggerakkan komunitas praktisi.

 

3.   Manjadi Coach Bagi Guru Lain (Inovatif)

Ciri Profil Pelajar Pancasila yang di capai:  berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang telah dilakukan antara lain: Menjadi narasumber  trainer dalam kegiatan pelatihan Guru-guru.

 

4.      Mendorong Kolaborasi Antar Guru ( Kolaboratif)

Ciri pelajar Pancasila yang di capai: berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang sudah dilakukan antara lain: Bekerjasama dalam pembuatan perencanaan pembelajaran (RPP), dalam hal ini kita berdiskusi untuk penentuan jumlah jam, model pembelajaran dan yang lainnya. Berkolaborasi dengan rekan sejawat mata pelajaran

 

5.    Mewujudkan Kepemimpinan Murid ( Berpihak kepada Murid)

Ciri pelajar Pancasila yang di capai: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Maksudnya yaitu seorang guru mampu mewujudkan merdeka belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa, mendorong siswa bernalar secara kritis, berakhlak mulia agar prestasinya meningkat, guru mampu mengajar dengan kreatif untuk meningkatkan kemandirian siswa.

Contoh konkrit yang telah dilakukan sebagai seorang guru penggerak untuk mewujudkan kepemimpinan siswa adalah:

1. Mendorong siswa untuk aktif dalam organisasi sekolah, misalnya OSIS untuk melatih kepeminpinan dan kemampuan memecahkan masalah, saya sebagai wali kelas selalu mendukung dan memberi dukungan kepada siswa saya untuk aktif di kegiatan OSIS, membantunya jika ada kesulitan selalu menyediakan waktu,pikiran dan tenaga untuk mereka.

2.    Mendorong siswa saya ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler disekolah Di dalam organisasi tersebut kita memberikan tangung jawab kepada siswa untuk melatih dan mengasah kemampuannya dibidang non akademik (motivator dan fasilitator)

 

 Pengalaman yang pernah saya lakukan sehubungan dengan peran dan nilai guru penggerak

a.    Memberikan tuntunan, contoh dan keteladanan kepada siswa dan rekan sejawat, ikhlas membantu rekan sejawat ketika mereka kesulitan terhadap tugas yang sedang dikerjakan, peduli pada waktu, menjaga kebersihan, bertutur kata yang baik, dan ramah,

b.     Memotivasi siswa untuk mandiri untuk mengerjakan tugas dan belajar dikelas

c.      Memberikan pelayanan secara ikhlas (lebih among) pada siswa yang kesulitan dalam kognitifnya

d.     Membimbing siswa yang bermasalah pada karakter dan perilakunya dengan mengajak bicara dari hati kehati

e.   Melakukan berbagai kegiatan pelatihan online untuk pengembangan diri dan mengajak kawan untuk mengikutinya dan membantunya jika mengalami kesulitan

f.        Mentransferkan ilmu yang didapat dari kegiatan pelatihan kepada rekan sejawat

g.   Memberikan informasi dan menuntun rekan sejawat untuk mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan secara online

h.   Melakukan diskusi kepada rekan sejawat tentang kelengkapan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran

i.       Menjadikan siswa sebagai pusat subjek pembelajaran

 

Kegiatan yang dilakukan guru penggerak untuk menguatkan peran serta nilai tersebut adalah:

a. Memahami dan melakukan Pembiasan peran guru penggerak sebagai alat untuk mentransformasikan Pendidikan yang terciptanya profil pelajar Pancasila melalui merdeka belajar.

b. Memahami terlebih dahulu tentang nilai diri (Identitas gunung es). Guru adalah manusia yang senantiasa selalu berusaha untuk menggerakkan manusia lain.  untuk itu guru harus terlebih dahulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakan orang lain.

c. Memahami empat kompetensi dari peran guru penggerak (mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, memimpin pengembangan sekolah)

d. Menumbuh kembangkan didalam diri guru penggerak lima nilai yaitu Mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid yang menjadi baru dalam berperilaku untuk seorang guru penggerak


Link Dokumentasi Nilai dan peran guru penggerak

https://docs.google.com/document/d/1u5WStwR0ZP-rW46pQ2WHkY7tG4vr0KenF7datSlgYf8/edit?usp=sharing



Kamis, 09 Juni 2022

 

PENERAPAN FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM “MERDEKA BELAJAR”


A.    Latar Belakang

Perkembangan zaman yang selalu berubah menuntut peserta didik memiliki keterampilan abad 21, yaitu kreatif, kritis, kolaborasi dan komunikasi. Pembelajaran konvensional tidak mampu dan tidak sesuai diterapkan dalam pembelajaran saat ini mengingat bahwa peserta didik harus memiliki rasa aman, nyaman, tenang dan damai selama belajar. Pembelajaran konvensional hanya menitikberatkan pada pembelajaran yang bepusat pada guru. Kondisi seperti ini masih terjadi pada beberapa guru di SMPN 2 Dumai. Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pembelajaran sehingga lebih berpusat pada guru (teacher centre). Padahal, tidak semua materi dapat diajarkan dengan menggunakan metode dan teknik yang sama.

Proses pembelajaran yang berkaitan dengan materi (konten) di sekolah masih sangat tergantung dengan materi dalam paket buku, saat ini belum sepenuhnya terlaksana pembelajaran kontekstual dengan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Selain itu, sikap sebagian besar peserta didik menggambarkan tergerusnya nilai-nilai etika kearifan lokal. Oleh sebab itu, Aksi Nyata yang saya lakukan dengan judul “Merdeka Belajar melalui Pembelajaran Kontekstual”.

 Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya  kekuatan kodrat anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaanya dalam belajar. 

Makna merdeka belajar menggambarkan bahwa pembelajaran memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam memilih materi yang akan dipelajarinya, bahan ajar yang akan digunakan sehingga meningkatkan daya kreatif dan kemampuan bernalar kritis peserta didik. Demikian pula, pembelajaran ini memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan sendiri guru yang akan mengajarnya, sehingga meningkatkan motivasi belajar dan pembelajaran akan berlangsung aktif serta menyenangkan. Dengan demikian, akan mendorong tumbuh kembangnya kemandirian dan potensi dalam diri pada peserta didik yang pada akhirnya akan mendorong tercapainya tujuan pembelajaran

Filosofi Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa Pendidikan adalah proses yang lebih peduli. Pendidikan lebih menekankan pada aspek pengembangan karakter (budi pekerti) peserta didik. Pandangan Ki Hadjar Dewantara dalam proses pengembangan karakter peserta didik, dengan memposisikan peserta didik sebagai subjek untuk menjadi kolaborasi dalam pembelajaran. Selain itu, peran seorang pendidik tergambar dari semboyan Ki Hadjar Dewantara  yaitu “ ing ngarsa sung tulada”, “ing madya mangun karsa”,  dan  “tut wuri handayani”.  Intinya bahwa seorang pendidik harus dapat menjadi penuntun, penyemangat dan tauladan yang baik bagi peserta didik. Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara sangat cocok penerapannya untuk menciptakan generasi emas. Peran sebagai seorang pendidik, semestinya hanya menuntun tumbuh kembang peserta didik sesuai dengan kodratnya.

Pada dasarnya semua manusia memiliki kodrat dari yang maha pencipta, tugas besar kita sebagai pendidik untuk menggali, menuntun dan mengembangkan potensi potensi yang dimiliki oleh anak anak agar kelak menjadi individu yang cerdas, unggul dan berkarakter yang memiliki kemampuan abad 21 yaitu berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif dan kreatif. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa penumbuhan nilai karakter dapat dijalankan melalui 4 laku yaitu : olah hati, olah raga, olah karsa dan olah pikir. Dalam pelaksanaan kegiatan sehari hari di sekolah, penanaman nilai nilai karakter dapat dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti literasi sekolah, kegiatan ekstrakurikuler kegiatan awal dan akhir pembelajaran, pembiasaan pembiasaan dan penetapan tata tertib sekolah.

Konsep belajar yang di gagas oleh Ki Hajar Dewantara merupakan konsep belajar yang memerdekakan peserta didik, agar terwujud profil pelajar pancasila dengan enam ciri utama: beriman bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergoton royong, mandiri, bernalar krit dan kreatif.  Konsep belajar Ki Hajar Dewantara di dasarkan dari sifat bawaan peserta didik, metode yang di gunakan adalah metode among yang memiliki arti menjaga mendidik dan membina bedasarkan hasil kasih sayang lingkungan belajar harus saling terkait anatara lembaga pendidikan di dalam keluarga, masyarakat dan sekolah.


B.    Tujuan 

Adapun tujuan yang akan dicapai yaitu:

a.     Melalui kebebasan dalam menentukan sendiri materi dan bahan ajar yang akan dipelajari, peserta didik dapat lebih kreatif dan berpikir kritis dalam bertindak.

b.   Melalui kebebasan dalam menentukan sendiri guru yang akan mengajar, peserta didik dapat lebih termotivasi dalam belajar.

c.  Melalui diskusi dalam pembelajaran, peserta didik mampu berkolaborasi dan bekerja sama serta menumbuhkan kemandirian dalam menyelesaikan tugas.

d.     Melalui latihan, peserta didik dapat menjadi lebih terampil.

e.     Menumbuhkan karakter yang baik pada siswa

f.      mewujudkan merdeka belajar agar tercapai profil pelajar pancasila 

 

C.    Tolok Ukur

Adapun yang menjadi tolak ukur keberhasilan antara lain adalah sebagai berikut:

a.   Peserta didik memiliki kemampuan dalam menganalisis atau keterampilan mengaitkan satu konsep dengan konsep yang lainnya serta memberikan solusi dengan cara yang baru terhadap suatu permasalahan yang terjadi.

b.    Peserta didik memiliki motivasi yang lebih tinggi dari sebelumnya dan diwujudkan dalam peningkatan hasil belajar.

c.    Peserta didik memiliki kemampuan berkolaborasi dan kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan

d.     Peserta didik memiliki perubahan karakter ke arah yang lebih baik dan diwujudkan dalam bentuk budi pekerti

e.     Terciptanya pembelajaran yang kreatif, parisipatif, dan rekreatif bagi murid 

f.      Tumbuhnya kreativitas murid dalam proses pembelajaran sesuai bakat, minat dan potensinya 

g.     Tumbuhnya karakter yang baik pada siswa 

 

D.    Hasil Aksi Nyata

Pada Refleksi pemikiran filosofi KHD, setelah mempelajari dan merefleksi filosofi KHD , ada beberapa pokok penting bekal sebagai CGP untuk mewujudkan merdeka belajar  yaitu yang pertama Apa yang saya percaya tentang siswa dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1. yaitu biasanya sebelumnya saya lebih dominan melakukan pembelajaran yang menuntut siswa agar mampu menguasai semua materi yang saya sampaikan dan memberikan tugas, siswa harus patuh kepada guru sebagai pusat pembelajaran ( Teacher Centered Learning), murid harus memahami semua materi ajar atau bidang studi demi mencapai ketuntasan pembelajaran (fokus pada terget pencapaian kurikulum), mengutamakan  aspek kognitif anak dibanding dengan aspek lainnya seperti aspek keterampilan dan karakternya, walaupun di dalam Kurikulum K 13 sudah ada, namun saya sering mengabaikanya, pembelajaran tertuju hanya didalam kelas (ruangan) padahal alam dan lingkungan merupakan guru yang paling baik, sesuai pepatah minang, alam takambang jadi guru, namun saya tidak menyadarinya selama ini.

Setelah mempelajari modul 1.1. ini , Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari  modul ini? saya merasa yang berubah adalah mindset bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, merubah pandangan anak sebagai subjek pembelajaran bukanlah objek pembelajaran, sebagai pendidik saya juga harus lebih cermat melihat bakat, minat anak dan menuntunnya sesuai kodrat, tidak lagi fokus menilai pada aspek kognitif saja, guru memberikan kebebasan kepada anak dalam menentukan gaya belajarnya atau menerapkan prinsip merdeka belajar, saya akhirnya menyadari bahwa siswa terlahir dengan kodratnya masing-masing dan tugas saya sebagai guru adalah membimbingnya, menuntun siswa bukan malah menuntut siswa.

Pandangan Ki Hajar Dewantara, siswa ibarat padi dalam melaksanakan pendidikan. Guru ibarat petani yang tugasnya menyebarkan benih, memberi pupuk, menyiangi rumput pengganggu, memberi pengairan dan pencahayaan yang baik, namun petani tidak bisa memaksakan benih padi menjadi tanaman lain. Hal itu juga diterapkan pada siswa. Siswa terlahir dengan bakat dan minatnya masing-masing. Guru tidak bisa memaksakan nya menjadi apa yang di inginkan atau untuk tujuan tertentu. Petani tidak boleh membedakan dari mana asal padi, asal pupuk dan hal lainnya, karena bakat dan minat anak begitu beragam dan berbeda-beda namun mereka memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas atas kemauannya sendiri. Ibarat planet-planet di barisan tata surya, mereka memiliki kecepatannya sendiri untuk mengelilingi matahari. Disinilah terjadi nya keselarasan ataupun keseimbangan di alam, begitu juga siswa kita, biarkan mereka maju dengan kecepatannya sendiri, tanpa paksaan dari guru.

Langkah konkrit apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara? yang pertama yang akan saya kerjakan yaitu membuat kesepakatan kelas bersama siswa sebagai salah satu wujud merdeka belajar, membuat budaya belajar besama sebagai wujud menghargai nilai budaya, sebagai guru saya harus lebih among lagi dalam menuntun semua kodrat yang ada pada anak, mengintegrasikan bermain itu adalah belajar, namun bermain disini harus di sesuaikan dengan tingkat satuan sekolahnya dan yang terpenting segera merubah gaya pembelajaran saya student Centered Learning. pemikiran KHD ini selaras dengan penerapan kompetensi pelajar abad 21 yaitu berpikir kritis (critical thingking), kreatifitas (creativity), komunikasi (comunication) dan berkolaborasi atau bekerjasama( collaboration).

Hasil dari aksi nyata yang dilakukan adalah sebagai berikut: adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik., interaksi guru dan peserta didik menjadi lebih dekat, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif peserta didik. Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan aksi nyata yang dilakukan antara lain pembelajaran yang dilakukan  mampu meningkatkan kerja sama atau kolaborasi antar peserta didik, mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik, meningkatkan hubungan yang lebih baik antar guru dan peserta didik sehingga komunikasi efektif tercipta. Peserta didik berhasil menyelesaikan proyek yang diberikan tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah mampu bersikap disiplin, tanggung jawab, dan mampu berpikir kritis, kreatif, mandiri.. Masih ada peserta didik yang kurang percaya diri untuk menentukan sendiri materi dan bahan ajar yang akan dipelajari.


E. Rencana Perbaikan Pelaksanaan Di Masa Mendatang

Beberapa rencana tindakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa telah dirancang rencana perbaikan pelaksanaan di masa mendatang antara lain adalah: Menyusun instrumen umpan balik dari peserta didik mengenai pembelajaran yang dilakukan, Melakukan diskusi dengan peserta didik mengenai saran atau ide yang diharapkan dalam pembelajaran, Meningkatkan rasa percaya diri peserta didik melalui refleksi dengan menjawab angket refleksi dengan jujur, Sistem Among lebih diterapkan, pembelajaran dengan asah,asih,asuh. Membuat guru mampu masuk ke hati siswanya, Melanjutkan pembelajaran inovatif, kreatif, dan menggairahkan semangat siswa, Lebih menekankan pembiasaan-pembiasaan positif seperti penanaman budi pekerti dengan melakukan hal-hal yang kecil sederhana namun dampaknya besar bagi mereka mendatang. Pengucapan budaya senyum,salam,sapa, minta maaf, terima kasih, mohon ijin, konfirmasi ketidakhadiran di sekolah, Membuka pola pikiran siswa belajar dilakukan setiap hari di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Belajar tidak hanya di sekolah di mana pun kita berada belajar pun akan selalu kita lakukan apabila bisa mengambil makna pada setiap kegiatan yang kita lakukan. Belajar bisa di rumah, lingkungan masyarakat, tempat-tempat umum. “Karena setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah”.

 F.    Dokumentasi Aksi Nyata

Beberapa dokumen tindakan  dan pelaksanaan aksi nyata yang telah dilakukan dapat dilihat pada link berikut ini.

https://sway.office.com/vE22sWYBTsHuXwEi?ref=Link

Oleh: Desi Suryanti, Guru SMPN 2 DumaiCGP Angkatan 5 Kota Dumai