PENERAPAN FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM “MERDEKA
BELAJAR”
A.
Latar Belakang
Perkembangan
zaman yang selalu berubah menuntut peserta didik memiliki keterampilan abad 21,
yaitu kreatif, kritis, kolaborasi dan komunikasi. Pembelajaran konvensional
tidak mampu dan tidak sesuai diterapkan dalam pembelajaran saat ini mengingat
bahwa peserta didik harus memiliki rasa aman, nyaman, tenang dan damai selama
belajar. Pembelajaran konvensional hanya menitikberatkan pada pembelajaran yang
bepusat pada guru. Kondisi seperti ini masih terjadi pada beberapa guru di SMPN
2 Dumai. Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi
pembelajaran sehingga lebih berpusat pada guru (teacher centre). Padahal, tidak
semua materi dapat diajarkan dengan menggunakan metode dan teknik yang sama.
Proses
pembelajaran yang berkaitan dengan materi (konten) di sekolah masih sangat
tergantung dengan materi dalam paket buku, saat ini belum sepenuhnya terlaksana
pembelajaran kontekstual dengan lingkungan sekitar sebagai sumber
belajar. Selain itu, sikap sebagian besar peserta didik menggambarkan
tergerusnya nilai-nilai etika kearifan lokal. Oleh sebab itu, Aksi Nyata
yang saya lakukan dengan judul “Merdeka Belajar melalui Pembelajaran Kontekstual”.
Ki Hajar Dewantara menjelaskan
bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak anak
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya
baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik
itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada
anak anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan
tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi
kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan
agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang pamong dapat
memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaanya dalam
belajar.
Makna merdeka belajar menggambarkan bahwa
pembelajaran memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam memilih materi
yang akan dipelajarinya, bahan ajar yang akan digunakan sehingga meningkatkan
daya kreatif dan kemampuan bernalar kritis peserta didik. Demikian pula,
pembelajaran ini memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan
sendiri guru yang akan mengajarnya, sehingga meningkatkan motivasi belajar dan
pembelajaran akan berlangsung aktif serta menyenangkan. Dengan demikian, akan
mendorong tumbuh kembangnya kemandirian dan potensi dalam diri pada peserta
didik yang pada akhirnya akan mendorong tercapainya tujuan pembelajaran
Filosofi
Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa Pendidikan adalah
proses yang lebih peduli. Pendidikan lebih menekankan pada aspek
pengembangan karakter (budi pekerti) peserta didik. Pandangan Ki Hadjar
Dewantara dalam proses pengembangan karakter peserta didik, dengan memposisikan
peserta didik sebagai subjek untuk menjadi kolaborasi dalam
pembelajaran. Selain itu, peran seorang pendidik tergambar dari semboyan
Ki Hadjar Dewantara yaitu “ ing
ngarsa sung tulada”, “ing madya mangun karsa”, dan “tut wuri handayani”. Intinya
bahwa seorang pendidik harus dapat menjadi penuntun, penyemangat dan tauladan
yang baik bagi peserta didik. Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara sangat cocok
penerapannya untuk menciptakan generasi emas. Peran sebagai seorang
pendidik, semestinya hanya menuntun tumbuh kembang peserta didik sesuai dengan
kodratnya.
Pada dasarnya semua manusia memiliki kodrat dari yang maha pencipta, tugas besar kita sebagai pendidik untuk menggali, menuntun dan mengembangkan potensi potensi yang dimiliki oleh anak anak agar kelak menjadi individu yang cerdas, unggul dan berkarakter yang memiliki kemampuan abad 21 yaitu berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif dan kreatif. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa penumbuhan nilai karakter dapat dijalankan melalui 4 laku yaitu : olah hati, olah raga, olah karsa dan olah pikir. Dalam pelaksanaan kegiatan sehari hari di sekolah, penanaman nilai nilai karakter dapat dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti literasi sekolah, kegiatan ekstrakurikuler kegiatan awal dan akhir pembelajaran, pembiasaan pembiasaan dan penetapan tata tertib sekolah.
Konsep belajar yang di gagas oleh Ki Hajar Dewantara merupakan konsep belajar yang memerdekakan peserta didik, agar terwujud profil pelajar pancasila dengan enam ciri utama: beriman bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergoton royong, mandiri, bernalar krit dan kreatif. Konsep belajar Ki Hajar Dewantara di dasarkan dari sifat bawaan peserta didik, metode yang di gunakan adalah metode among yang memiliki arti menjaga mendidik dan membina bedasarkan hasil kasih sayang lingkungan belajar harus saling terkait anatara lembaga pendidikan di dalam keluarga, masyarakat dan sekolah.
B. Tujuan
Adapun tujuan yang akan dicapai yaitu:
a.
Melalui
kebebasan dalam menentukan sendiri materi dan bahan ajar yang akan dipelajari,
peserta didik dapat lebih kreatif dan berpikir kritis dalam bertindak.
b. Melalui
kebebasan dalam menentukan sendiri guru yang akan mengajar, peserta didik dapat
lebih termotivasi dalam belajar.
c. Melalui
diskusi dalam pembelajaran, peserta didik mampu berkolaborasi dan bekerja sama
serta menumbuhkan kemandirian dalam menyelesaikan tugas.
d.
Melalui
latihan, peserta didik dapat menjadi lebih terampil.
e.
Menumbuhkan karakter yang baik pada
siswa
f. mewujudkan merdeka belajar agar tercapai profil pelajar pancasila
C. Tolok Ukur
Adapun yang menjadi tolak ukur
keberhasilan antara lain adalah sebagai berikut:
a. Peserta
didik memiliki kemampuan dalam menganalisis atau keterampilan mengaitkan satu
konsep dengan konsep yang lainnya serta memberikan solusi dengan cara yang baru
terhadap suatu permasalahan yang terjadi.
b. Peserta
didik memiliki motivasi yang lebih tinggi dari sebelumnya dan diwujudkan dalam
peningkatan hasil belajar.
c. Peserta
didik memiliki kemampuan berkolaborasi dan kemandirian dalam mengerjakan
tugas-tugas yang diberikan
d.
Peserta
didik memiliki perubahan karakter ke arah yang lebih baik dan diwujudkan dalam
bentuk budi pekerti
e.
Terciptanya
pembelajaran yang kreatif, parisipatif, dan rekreatif bagi murid
f.
Tumbuhnya
kreativitas murid dalam proses pembelajaran sesuai bakat, minat dan potensinya
g.
Tumbuhnya
karakter yang baik pada siswa
D. Hasil Aksi Nyata
Pada
Refleksi pemikiran filosofi KHD, setelah mempelajari dan merefleksi filosofi
KHD , ada beberapa pokok penting bekal sebagai CGP untuk mewujudkan merdeka
belajar yaitu yang pertama Apa yang saya percaya tentang siswa dan
pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1. yaitu biasanya
sebelumnya saya lebih dominan melakukan pembelajaran yang menuntut siswa agar
mampu menguasai semua materi yang saya sampaikan dan memberikan tugas, siswa
harus patuh kepada guru sebagai pusat pembelajaran ( Teacher Centered
Learning), murid harus memahami semua materi ajar atau bidang studi demi
mencapai ketuntasan pembelajaran (fokus pada terget pencapaian kurikulum),
mengutamakan aspek kognitif anak dibanding dengan aspek lainnya seperti
aspek keterampilan dan karakternya, walaupun di dalam Kurikulum K 13 sudah ada,
namun saya sering mengabaikanya, pembelajaran tertuju hanya didalam kelas
(ruangan) padahal alam dan lingkungan merupakan guru yang paling baik, sesuai
pepatah minang, alam takambang jadi guru, namun saya tidak menyadarinya selama
ini.
Setelah
mempelajari modul 1.1. ini , Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya
setelah mempelajari modul ini? saya merasa yang berubah adalah mindset
bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, merubah pandangan anak sebagai
subjek pembelajaran bukanlah objek pembelajaran, sebagai pendidik saya juga
harus lebih cermat melihat bakat, minat anak dan menuntunnya sesuai kodrat,
tidak lagi fokus menilai pada aspek kognitif saja, guru memberikan kebebasan
kepada anak dalam menentukan gaya belajarnya atau menerapkan prinsip merdeka
belajar, saya akhirnya menyadari bahwa siswa terlahir dengan kodratnya
masing-masing dan tugas saya sebagai guru adalah membimbingnya, menuntun siswa
bukan malah menuntut siswa.
Pandangan
Ki Hajar Dewantara, siswa ibarat padi dalam melaksanakan pendidikan. Guru
ibarat petani yang tugasnya menyebarkan benih, memberi pupuk, menyiangi rumput
pengganggu, memberi pengairan dan pencahayaan yang baik, namun petani tidak
bisa memaksakan benih padi menjadi tanaman lain. Hal itu juga diterapkan pada
siswa. Siswa terlahir dengan bakat dan minatnya masing-masing. Guru tidak bisa
memaksakan nya menjadi apa yang di inginkan atau untuk tujuan tertentu.
Petani tidak boleh membedakan dari mana asal padi, asal pupuk dan hal lainnya,
karena bakat dan minat anak begitu beragam dan berbeda-beda namun mereka
memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas
atas kemauannya sendiri. Ibarat planet-planet di barisan tata surya, mereka
memiliki kecepatannya sendiri untuk mengelilingi matahari. Disinilah terjadi
nya keselarasan ataupun keseimbangan di alam, begitu juga siswa kita, biarkan
mereka maju dengan kecepatannya sendiri, tanpa paksaan dari guru.
Langkah konkrit apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara? yang pertama yang akan saya kerjakan yaitu membuat kesepakatan kelas bersama siswa sebagai salah satu wujud merdeka belajar, membuat budaya belajar besama sebagai wujud menghargai nilai budaya, sebagai guru saya harus lebih among lagi dalam menuntun semua kodrat yang ada pada anak, mengintegrasikan bermain itu adalah belajar, namun bermain disini harus di sesuaikan dengan tingkat satuan sekolahnya dan yang terpenting segera merubah gaya pembelajaran saya student Centered Learning. pemikiran KHD ini selaras dengan penerapan kompetensi pelajar abad 21 yaitu berpikir kritis (critical thingking), kreatifitas (creativity), komunikasi (comunication) dan berkolaborasi atau bekerjasama( collaboration).
Hasil dari aksi nyata yang dilakukan adalah sebagai berikut: adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik., interaksi guru dan peserta didik menjadi lebih dekat, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif peserta didik. Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan aksi nyata yang dilakukan antara lain pembelajaran yang dilakukan mampu meningkatkan kerja sama atau kolaborasi antar peserta didik, mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik, meningkatkan hubungan yang lebih baik antar guru dan peserta didik sehingga komunikasi efektif tercipta. Peserta didik berhasil menyelesaikan proyek yang diberikan tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah mampu bersikap disiplin, tanggung jawab, dan mampu berpikir kritis, kreatif, mandiri.. Masih ada peserta didik yang kurang percaya diri untuk menentukan sendiri materi dan bahan ajar yang akan dipelajari.
E. Rencana Perbaikan Pelaksanaan Di
Masa Mendatang
Beberapa rencana tindakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa telah dirancang rencana perbaikan pelaksanaan di masa mendatang antara lain adalah: Menyusun instrumen umpan balik dari peserta didik mengenai pembelajaran yang dilakukan, Melakukan diskusi dengan peserta didik mengenai saran atau ide yang diharapkan dalam pembelajaran, Meningkatkan rasa percaya diri peserta didik melalui refleksi dengan menjawab angket refleksi dengan jujur, Sistem Among lebih diterapkan, pembelajaran dengan asah,asih,asuh. Membuat guru mampu masuk ke hati siswanya, Melanjutkan pembelajaran inovatif, kreatif, dan menggairahkan semangat siswa, Lebih menekankan pembiasaan-pembiasaan positif seperti penanaman budi pekerti dengan melakukan hal-hal yang kecil sederhana namun dampaknya besar bagi mereka mendatang. Pengucapan budaya senyum,salam,sapa, minta maaf, terima kasih, mohon ijin, konfirmasi ketidakhadiran di sekolah, Membuka pola pikiran siswa belajar dilakukan setiap hari di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Belajar tidak hanya di sekolah di mana pun kita berada belajar pun akan selalu kita lakukan apabila bisa mengambil makna pada setiap kegiatan yang kita lakukan. Belajar bisa di rumah, lingkungan masyarakat, tempat-tempat umum. “Karena setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah”.
F. Dokumentasi Aksi Nyata
Beberapa
dokumen tindakan dan pelaksanaan aksi
nyata yang telah dilakukan dapat dilihat pada link berikut ini.
https://sway.office.com/vE22sWYBTsHuXwEi?ref=Link
Oleh: Desi Suryanti, Guru SMPN 2 DumaiCGP Angkatan 5 Kota Dumai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar