Senin, 24 Oktober 2022

Koneksi Antar Materi


 

ARTIKEL: Modul 3.1 Pengambilan Keputusan berbasis nilai -nilai kebajikan sebagai Pemimpin




Tugas 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi. Pada tugas ini terdapat 14 pertanyaan pemandu untuk membuat Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran yang diperoleh dari Modul 3.1 ini, dan dalam tulisan ini saya berusaha menguraikan jawabannya satu per satu berdasarkan pemahaman saya. Mari kita simak lebih lanjut!

  

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

 

Filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD) dengan Pratap Triloka memiliki kaitan erat dengan penerapan bagaimana pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Semboyan trilogi Pendidikan KHD yang terkenal yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangunkarsa, Tut Wuri handayani, yang memiliki makna bahwa pada saat seorang pemimpin berada di depan, maka dia harus bisa memberikan teladan. Pada saat berada di tengah, maka dia harus bisa membangun motivasi/semangat. Dan pada saat berada di belakang, maka seorang pemimpin haruslah bisa memberikan dukungan atau motivasi. Di antara berbagai peran guru, salah satunya  adalah guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pemimpin, seringkali guru dihadapkan pada permasalahan rumit yang menuntut pengambilan keputusan yang tepat, efektif dan bertanggung jawab dengan tetap mengedepankan prinsip keputusan yang diambil tetap berpihak pada murid. Sebagai seorang pendidik maka kita harus menyadari bahwa setiap anak lahir di dunia ini unik sesuai dengan kodratnya masing-masing. Tugas kita adalah menuntun dan mengarahkan segala kodrat yang ada pada anak, karena setiap anak telah memiliki garis kodratnya meski samar-samar dan tugas kita untuk menebalkan garis kodrat itu secara seimbang antara cipta, karsa dan karyanya agar tumbuh perpaduan tiga unsur tersebut, yaitu budi pekerti (karakter). Kita bisa mengarahkan dan memberikan dorongan, supaya mereka tidak kehilangan arah pada saat mereka berproses. Kita berikan mereka kebebasan dan kemerdekaan dalam belajar sehingga hal ini akan berdampak pada saat mereka belajar untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat dan bertanggungjawab. Guru seharusnya bisa menjadi sosok pemimpin yang bisa mengambil keputusan yang berpihak pada murid dengan menerapkan 4 Paradigma dan 3 Prinsip dalam Pengambilan Keputusan serta 9 langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan.

 

2.    Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang pendidik, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Di dalam diri seorang pendidik, pasti telah memiliki nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Namun dalam perjalanan menjalankan tugasnya, seorang pendidik juga dihadapkan pada: 1) dilema etika yaitu pertentangan nilai-nilai yang sama-sama mengandung kebenaran 9benar lawan benar), dan 2) bujukan moral yaitu pertentangan nilai benar lawan salah. Dalam kasus seperti ini, nilai-nilai yang telah tertanam itu pasti akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang diambil sebagai seorang pemimpin. Oleh karena itulah, seorang guru sebagai seorang Pemimpin Pembelajaran harus mampu menyelaraskan nilai-nilai yang ia yakini dengan nilai nilai kebajikan yang universal. Dengan demikian pengambilan keputusannya tetap berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan universal, bukan hanya pada nilai-nilai yang ia yakini saja. Maka penting untuk memupuk nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang kita ambil.

 

 

3.  Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

 

Fasilitator sangat membantu saya dalam berlatih untuk melakukan proses pembelajaran dan mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, apakah sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal, apakah keputusan yang diambil bermanfaat dan berpihak kepada murid serta apakah keputusan yang diambil tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Seorang guru harus mampu mengetahui dan memahami kebutuhan belajar serta kondisi sosial dan emosional dari muridnya. Pentingnya pendekatan Coaching dilaksanakan oleh guru, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan untuk memprediksi hasil dan berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Coaching dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat yang akan berpengaruh sehingga terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman dengan demikian akan berpengaruh bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan coaching menggunakan alur TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.


4.    Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

 

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan. Dalam proses kegiatan belajar mengajar seorang pendidik sebagai seorang pemimpin pembelajaran harus mampu memahami kebutuhan belajar murid-muridnya. Di dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kompetensi sosial dan emosional  guru juga sangat dibutuhkan. Di antara kompetensi sosial emosional adalah kesadaran diri, pengelolaan diri, mengelola emosi dan fokus pada tujuan, kesadaran social empati, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Jika dalam pengambilan keputusan, guru menerapkan kompetensi sosial emosionalnya, maka niscaya keputusan yang ia ambil akan  merupakan keputusan yang tepat dan bisa dipertanggungjawabkan. 

 

5.    Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

 

Ketika kita dihadapkan dengan pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri dan keterampilan berelasi untuk mengambil keputusan. Kita dapat menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar lawan salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar lawan benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai kebajikan yang universal maka keputusan yang diambil akan tepat dan dapat dipertanggung jawabkan. Sebagai guru kita dapat menerapkan nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak yaitu Reflektif, Mandiri, Inovatif, Kolaboratif dan Berpihak pada Murid. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran.

 

6.  Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

 Langkah awal yang dilakukan sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan adalah mengenali kasus atau masalah yang  terjadi terlebih dahulu. Apakah kasus tersebut termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Jika termasuk dalam Dilema Etika, maka yang harus dilakukan adalah mengalisa kasus tersebut dengan berdasar pada 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan serta penujian pengambilan keputusan. Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya. Oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis dengan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

 

 

7.  Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan di  lingkungan saya saat pengambilan keputusan adalah adanya perbedaan pandangan dan prinsip pada masing-masing pihak yang terlibat dalam kasus yang dihadapi sehingga mempersulit untuk mencapai sebuah kesepakatan serta pengambilan keputusan. Sebagai contoh kasus dilema etika yang berkaitan dengan murid yaitu masih kurangnya pemahaman murid terhadap penegakan disiplin atau penerapan budaya positif di sekolah. kemudian masih terdapat perbedaan sudut pandang tentang cara penegakan disiplin di sekolah di antara rekan-rekan sejawat, karena sudah merupakan budaya yang sudah diterapkan sejak lama. Dalam kasus dilema etika, pada dasarnya apapun keputusan yang diambil dapat dibenarkan secara moral. Akan tetapi perlu memperhatikan prinsi-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan yaitu prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end based thinking), berpikir berbasis peraturan (rule based thinking) dan berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking).

 

 

8.   Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Merdeka belajar merupakan tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan sehingga murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya (memenuhi kesiapan belajar, gaya belajar, minat dan lingkungan belajar serta kompentensi sosial emosional). Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain Murid juga dapat mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi yang dia miliki. Maka keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran tidak boleh merampas kebahagiaan dan potensi yang dimiliki murid. Oleh karena itu, pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda tersebut salah satunya bisa dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang terintegrasi dengan kompetensi sosial dan emosional.

 

9.   Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 

Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan haruslah mempertimbangkan kebutuhan murid, potensi yang dimiliki oleh murid serta bisa mengembangkan potensi tersebut. Dan tentu saja hal ini akan berpengaruh terhadap masa depan murid-muridnya di masa yang akan datang. Misalnya pengambilan keputusan guru untuk melakukan proses pembelajaran yang menuntun bukan menuntut, dan memberikan kesempatan bagi murid untuk dapat mengekspresikan pemahamannya dengan berbagai cara sesuai dengan minat murid. Melakukan pembelajaran yang  berpihak pada murid dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, memasukkan keterampilan sosial emosional dan menanamkan budaya positif, maka diharapkan murid-muridnya akan belajar dengan senang dan nyaman sehingga akan menumbuhkan suatu komunitas “wellbeing”. Pada akhirnya nanti murid-murid akan mencapai Profil Pelajar Pancasila yang menjadi muara pendidikan di Indonesia. Berbekal hal tersebut maka di masa depan, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang mampu menjadi estafet kepemimpinan negeri ini. Sebaliknya, ketika seorang guru mengambil keputusan yang salah atau kurang  bijaksana, maka bisa jadi berdampak buruk bagi masa depan murid. Oleh karena itulah, bagi seorang guru keputusan tepat yang berpihak kepada murid menjadi sangat penting.

 

10. Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

 

Guru sebagai pendidik yang peran utamanya adalah "menuntun" segala kodrat yang dimiliki oleh anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya, agar anak meraih kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun, guru berperan sebagai pamong, yang mengedepankan pratap triloka ing ngarso sung thulodo, ing madyo mbangun karso, dan tut wuri handayani dalam kepemimpinannya di pembelajaran. Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada budi pekerti (karakter) anak.

Dalam menjalankan tugasnya guru pasti dihadapkan pada situasi/kasus di mana ia harus mengambil keputusan, maka Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran merupakan suatu hal yang harus dikuasai oleh guru. Dengan kata lain, sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru harus dapat mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai kasus. Untuk dapat melakukannya, guru harus memahami berbagai hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Di antaranya adalah:

·         Dalam pengambilan keputusan guru menjadikan landasan berpikir pada filosofi Ki Hajar Dewantara sesuai peran guru sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru harus  memahami kebutuhan belajar murid. Inilah pentingnya pembelajaran berdiferensiasi.

·         Dalam pengambilan keputusan Dibutuhkan nilai-nilai kebajikan agar setiap keputusan yang diambil oleh guru merupakan keputusan yang paling tepat terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada murid.

·         Dalam pengambilan keputusan harus berdasarkan pada penerapan budaya positif serta memiliki visi dan misi sekolah yang berpihak pada murid dengan melakukan prakarsa perubahan melalui inkuiri apresiatif dengan BAGJA sehingga dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).

·         Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional serta memiliki kesadaran penuh (mindfullness). dengan mempertimbangkan relasi, empati dan tanggung jawab. Bukan keputusan emosional. Ketrampilan coaching juga dibutuhkan, karena  proses ini dapat digunakan untuk membantu murid mengambil keputusan yang bertanggung jawab,

·         Banyak situasi/kasus yang dijumpai mengandung dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan memilih 4 paradigma dan 3 prinsip serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid sehingga terwujudnya merdeka belajar.

Jadi materi yang telah dipelajari dalam Pendidikan Guru Penggerak ini, dari modul 1.1 sampai modul 3.1 merupakan hal yang berkaitan erat satu dengan yang lainnya, sehingga sudah seharusnya dikuasai oleh terutama calon guru penggerak, untuk dapat mewujudkan salah satu perannya, yaitu menjadi pemimpin pembelajaran

 

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

 

Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.

Dalam pengambilan keputusan terhadap suatu kasus dilema etika maka seorang pemimpin harus memegang teguh terhadap:

4 (Empat) Paradigma:

1.    (Individu lawan masyarakat (individu vs komunitas)

2.    Rasa keadilan lawan rasa panggang (justice vs rahmat)

3.    Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.    Jangka pendek lawan jangka panjang (jangka pendek vs jangka panjang)

 

3 (Tiga) Prinsip Berpikir :

1.    Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.    Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.    Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Berpikir Berbasis Peduli)

 

Dan 9 (sembilan) langkah pengambilan dan pengujian keputusan yaitu :

Langkah 1 : Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi

Langkah 2 : Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi

Langkah 3 : Kumpulkan fakta-fakta yang relevan

Langkah 4 : Pengujian benar atau salah, yang terdiri atas :

1.Uji Hukum

2. Uji Regulasi/Standar Profesional

3.Uji Intuisi

4.Uji Halaman Depan Quran

5.Uji Panutan/Idola

Langkah 5 : Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

Langkah 6 : Melakukan Prinsip Resolusi

Langkah 7 : Investigasi Opsi Trilema

Langkah 8 : Buat Keputusan

Langkah 9 : Tinjau lagi keputusan dan refleksikan

 

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Ya, pernah. hanya saja dalam mengambil keputusan hanya berdasarkan kesepakatan bersama tanpa melalui konsep pengambilan keputusan kasus dilema etika dengan  4 paradigma dan  3 prinsip serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga keputusan yang saya ambil terkadang mengundang kekhawatiran diri.

 

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya alami adalah adanya perubahan pandangan terhadap pengambilan keputusan. Sebelum saya memahami modul ini saya hanya fokus terhadap masalah dan bagaimana solusinya agar tidak melanggar aturan yang ada. Namun setelah mempelajari modul ini membuka mata hati dan pikiran saya bahwa segala pengambilan keputusan hendaknya berpihak pada murid, memahami kebutuhan murid dan lebih bijaksana dalam menghadapi masalah dan mengambil keputusan agar tidak salah dan merugikan orang banyak.

 

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Menurut pendapat saya topik modul ini sangatlah penting karena dapat menambah wawasan dan merubah pola pikir saya terkait cara pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Dan jika saya sebagai seorang pemimpin, agar bisa mengambil keputusan yang bijaksana berbasis nilai-nilai kebajikan universal sesuai dengan 4 paradigma, 3 prinsip serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.





Penulis: Desi Suryanti

CGP Angkatan 5 Kota Dumai

Jumat, 07 Oktober 2022

Modul 2.3 Koneksi Antar Materi : ARTIKEL

 

TEKNIK COACHING DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak pendidikan kita telah mengemukakan bahwa pendidikan itu adalah ada proses menuntun yang dilakukan guru untuk mengubah prilaku murid sehingga dapat hidup sesuai kodratnya baik sebagai individu maupun bagian dari masyarakat. Proses menuntun tersebut dapat dilakukan salah satu caranya adalah dengan melakukan proses coaching. Coaching dalam dunia pendidikan sangat sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara. 

Dalam coaching ini ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman. Dalam proses coaching guru sebagai pamong mengajukan pertanyaan efektif dan reflektif untuk menggali segala potensi yang dimiliki murid dengan tidak memberikan solusi akan tetapi mengarahkan mencari solusi.

Coach mempunyai peran yang sangat penting pula dalam sistem among yang digaungkan Ki Hajar Dewantara. Pendidik sebagai penuntun bagi anak didiknya haruslah mampu melakukan pendekatan melalui proses komunikasi. Komunukasi yang dapat membangun kanyaman dan kesetaraan sehingga tercipta rasa empati, saling menghormati dan saling menghargai antara guru dan murid. Proses komunikasi yang dijalankan melalui serangkaian proses untuk menemukenali segala apa yang dimilki murid sebagai bentuk kekuatan untuk menyelesaikan sagala apa yang dihadapinya. Proses tersebut tercipta dalam coaching.

Selain itu, dalam proses coaching ada juga pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan konsep Tut Wuri Handayani di mana murid adalah mitra belajar. Guru bukan lagi sumber pengetahuan satu-satunya akan tetapi ada murid sebagai mitra dalam mencari kesepahaman dalam belajar. Guru bersama murid belajar bersama mengenali kekuatan yang dimilikinya untuk melejitkan kemampuan yang dimiliki murid. bukan lagi waktunya guru cemerlang sendiri akan tetapi bagaimanan murid pun menjadi bersinar. Guru membantu murid menemukan kekuatan untuk bisa hidup sebagai manusia seutuhnya. 

Guru sebagai coach merefleksikan kebebasan murid untuk menemukan berbagai kekuataan yang dimiliki mereka dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan. Guru sebagai coach menghindari keinginan untuk memaksakan kehendak dan mengharapkan pamrih, mensucikan diri tanpa ikatan menjadikan murid insan paripurna. Guru sebagai coach menciptakan suasana nyaman dan rasa percaya untuk memberikan kebebasan dan kemerdekaan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menjadi murid kuat secara kodrati.

Salah satu bentuk untuk melejitkan potensi murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi yaitu pembelajaran yang selalu memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik berdasarkan minat, profil dan kesiapan belajar. Guru sebagai coach dibutuhkan untuk menggali kebutuhan murid sehingga guru dapat mendesain proses pembelajaran yang mampu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki murid. 

Selain itu, secara sosial emosional  segala potensi murid dapat berkembang secara maksimal. Proses coaching dapat berjalan dengan mengoptimalkan ranah sosial emosional sehingga setiap murid mampu menyelesaikan setiap masalah dengan potensi dan kemampuannnya sendiri. Segala potensi akan tergali dengan proses coaching yang dilakukan guru. Murid akan menemukan kedewasaan dalam menghadapi setiap kemelut dalam hidupnya dan mereka akan menemukan jati diri dengan proses coaching yang dilakukan guru. Pada akhirnya mereka akan mampu hidup bebas dan merdeka menentukan jalan hidupnya sesuai kekuatan dan potensinya masing-masing.

Dokumentasi: peran sebagai coach untuk rekan sejawat dan murid