Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2022

Modul 1.2 Aksi Nyata: Nilai dan Peran Guru: Upaya Dalam Membentuk Profil Pelajar Pancasila


     I.            Latar Belakang

Guru sesungguhnya memiliki kesempatan untuk menjadi teladan bagi muridnya. Kini, pilihannya adalah memanfaatkan kesempatan itu dengan sengaja atau membiarkannya lewat begitu saja dan tidak melakukan apa-apa. Menjadi teladan harus diusahakan secara sadar. Guru dengan karakter baik mengajarkan murid mereka tentang bagaimana keputusan dibuat melalui proses pertimbangan moral. Guru membantu muridnya memahami nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka sendiri, kemudian mereka mempercayainya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari siapa mereka, hingga kemudian mereka terus menghidupinya. Guru dengan karakter yang baik melestarikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat melalui murid-murid mereka. Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakkan manusia yang lain.

 

   II.            Tujuan

Kompetensi guru penggerak adalah memimpin pembelajaran, namun bukan berarti guru sebagai pusat pembelajaran, melainkan mampu menggerakkan diri, rekan guru lain, sekolah, lingkungan untuk mewujudkan sekolah yang berorientasi pada siswa menerapkan merdeka belajar, siswa sebagai subyek dan bukan objek pembelajaran, mampu membangun komunikasi dengan baik dengan rekan guru untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif, aman dan nyaman, mampu mengembangkan sistem dan aturan yang memastikan masukan aspirasi siswa sebagi pertimbangan utama dalam memutuskan suatu peraturan, mampu membuat kebijakan yang berpihak pada siswa, dan mampu mewujudkan lingkungan belajar yang kondusif.

 

III.            Rencana Aksi Nyata

a. Memahami terlebih dahulu tentang nilai diri. Guru adalah manusia yang senantiasa selalu berusaha untuk menggerakkan manusia lain.  Untuk itu guru harus terlebih dahulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakan orang lain.

 b. Memahami dan melakukan pembiasaan peran guru penggerak sebagai alat untuk    mentransformasikan pendidikan sehingga terciptanya profil pelajar pancasila melalui merdeka belajar.

c. Menumbuh kembangkan didalam diri guru penggerak lima nilai yaitu Mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid yang kemudian diaplikasikan dalam berperilaku untuk seorang guru penggerak.

 

 

IV.            Hasil Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak

1.       Pemimpin Pembelajaran (Mandiri dan Inovatif)

Ciri Profil Pelajar Pancasila yang dicapai: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang telah dilakukan antara lain: sebagian aksi nyata kepemimpinan pembelajaran yang pernah di lakukan di sekolah pada saat proses belajar mengajar. Kegiatan dari pembelajaran adalah mentransfer ilmu dan tujuannya peserta didik bisa memahami.  Dalam hal ini yang pernah dilakukan adalah: menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan melakukan pemilihan metode dalam mengajar, dimana guru sebagai pemimpin pembelajaran menyiapkan peralatan praktikum yang akan digunakan sebagai media dalam pembelajaran serta membentuk kelompok.  Pembelajaran dilakukan secara berkelompok, Kemudian masing masing kelompok mempresentasikan hasil dari diskusi mereka. Dengan metode ini seluruh peserta didik aktif dan masing-masing memiliki peran dan pembelajaran diakhiri dengan pengambilan nilai. Dilihat dari hasil penilaian dapat disimpulkan pembelajaran berhasil. Dari uraian tersebut, kepemimpinan pembelajaran yang telah dilakukan yaitu :

a.         Memilih atau mengambil keputusan penentuan metode dalam pembelajaran

b.         Menyusun rencana berupa persiapan pembelajaran

c.         Pelaksanaan yaitu proses pelakasanaan belajar mengajar (PBM)

d.         Penilaian

 

2.         Menggerakkan Komunitas Praktisi

Ciri Profil Pelajar pancasila yang di capai: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang telah dilakukan antara lain:

1.    Menggerakkan komunitas praktik untuk rekan guru di sekolah dan wilayah kota Dumai. Seorang Guru Penggerak berpartisipasi aktif dalam membuat komunitas belajar untuk para rekan guru baik di sekolah maupun wilayahnya. Banyaknya praktik baik yang bisa dibagikan dalam komunitas tersebut bisa menjadi bahan pembelajaran untuk para guru sejawat dan tentunya untuk Guru Penggerak tersebut juga. Dalam hal ini yang pernah dilakukan antara lain adalah mengikuti pelatihan Training Of Trainer Guru Inovatif dan Google Master Trainer yang nantinya sebagai penggerak guru-guru di kota Dumai.

2. Mengadakan In House Training (IHT) /pelatihan untuk meningkatkan mutu sekolah dan kompetensi guru-guru dengan mengundang beberapa pemateri yang sesuai bidangnya, hal ini sejalan dengan program-program pemerintah seperti Sekolah penggerak.

3.  Mengadakan Workshop/pelatihan untuk guru-guru dengan pemateri dari eksternal sekolah yang kompeten dalam bidangnya masing-masing, seperti antara lain mulmedia interaktif, assembler edu, canva for edu,penuusunan modul ajar dan lain sebagainya. 

4.    Mendorong guru-guru untuk mengikuti pelatihan pengembangan diri untuk kemudian dibagikan pengetahuannya kepada rekan lainnya.

5.    Berusaha mencarikan jalan keluar dari hal-hal yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan semua proses yang terjadi di sekolah dengan seefektif dan seefisien mungkin.

Semua hal itu tentunya atas izin dan sepengetahuan serta arahan pimpinan. Demikian secara garis besar beberapa hal-hal yang sudah dilakukan dalam upaya menggerakkan komunitas praktisi.

 

3.   Manjadi Coach Bagi Guru Lain (Inovatif)

Ciri Profil Pelajar Pancasila yang di capai:  berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang telah dilakukan antara lain: Menjadi narasumber  trainer dalam kegiatan pelatihan Guru-guru.

 

4.      Mendorong Kolaborasi Antar Guru ( Kolaboratif)

Ciri pelajar Pancasila yang di capai: berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Contoh konkrit yang sudah dilakukan antara lain: Bekerjasama dalam pembuatan perencanaan pembelajaran (RPP), dalam hal ini kita berdiskusi untuk penentuan jumlah jam, model pembelajaran dan yang lainnya. Berkolaborasi dengan rekan sejawat mata pelajaran

 

5.    Mewujudkan Kepemimpinan Murid ( Berpihak kepada Murid)

Ciri pelajar Pancasila yang di capai: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Maksudnya yaitu seorang guru mampu mewujudkan merdeka belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa, mendorong siswa bernalar secara kritis, berakhlak mulia agar prestasinya meningkat, guru mampu mengajar dengan kreatif untuk meningkatkan kemandirian siswa.

Contoh konkrit yang telah dilakukan sebagai seorang guru penggerak untuk mewujudkan kepemimpinan siswa adalah:

1. Mendorong siswa untuk aktif dalam organisasi sekolah, misalnya OSIS untuk melatih kepeminpinan dan kemampuan memecahkan masalah, saya sebagai wali kelas selalu mendukung dan memberi dukungan kepada siswa saya untuk aktif di kegiatan OSIS, membantunya jika ada kesulitan selalu menyediakan waktu,pikiran dan tenaga untuk mereka.

2.    Mendorong siswa saya ikut dalam kegiatan ekstrakurikuler disekolah Di dalam organisasi tersebut kita memberikan tangung jawab kepada siswa untuk melatih dan mengasah kemampuannya dibidang non akademik (motivator dan fasilitator)

 

 Pengalaman yang pernah saya lakukan sehubungan dengan peran dan nilai guru penggerak

a.    Memberikan tuntunan, contoh dan keteladanan kepada siswa dan rekan sejawat, ikhlas membantu rekan sejawat ketika mereka kesulitan terhadap tugas yang sedang dikerjakan, peduli pada waktu, menjaga kebersihan, bertutur kata yang baik, dan ramah,

b.     Memotivasi siswa untuk mandiri untuk mengerjakan tugas dan belajar dikelas

c.      Memberikan pelayanan secara ikhlas (lebih among) pada siswa yang kesulitan dalam kognitifnya

d.     Membimbing siswa yang bermasalah pada karakter dan perilakunya dengan mengajak bicara dari hati kehati

e.   Melakukan berbagai kegiatan pelatihan online untuk pengembangan diri dan mengajak kawan untuk mengikutinya dan membantunya jika mengalami kesulitan

f.        Mentransferkan ilmu yang didapat dari kegiatan pelatihan kepada rekan sejawat

g.   Memberikan informasi dan menuntun rekan sejawat untuk mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan secara online

h.   Melakukan diskusi kepada rekan sejawat tentang kelengkapan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran

i.       Menjadikan siswa sebagai pusat subjek pembelajaran

 

Kegiatan yang dilakukan guru penggerak untuk menguatkan peran serta nilai tersebut adalah:

a. Memahami dan melakukan Pembiasan peran guru penggerak sebagai alat untuk mentransformasikan Pendidikan yang terciptanya profil pelajar Pancasila melalui merdeka belajar.

b. Memahami terlebih dahulu tentang nilai diri (Identitas gunung es). Guru adalah manusia yang senantiasa selalu berusaha untuk menggerakkan manusia lain.  untuk itu guru harus terlebih dahulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian memilih untuk bergerak dan akhirnya menggerakan orang lain.

c. Memahami empat kompetensi dari peran guru penggerak (mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, memimpin pengembangan sekolah)

d. Menumbuh kembangkan didalam diri guru penggerak lima nilai yaitu Mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid yang menjadi baru dalam berperilaku untuk seorang guru penggerak


Link Dokumentasi Nilai dan peran guru penggerak

https://docs.google.com/document/d/1u5WStwR0ZP-rW46pQ2WHkY7tG4vr0KenF7datSlgYf8/edit?usp=sharing



Kamis, 02 Juni 2022

Artikel_Koneksi Antar Materi Filosofis Pemikiran KHD

 

Refleksi dan Kesimpulan Pemikiran Ki Hajar Dewantara



Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran merupakan bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberikan ilmu/faedah untuk kecakapan hidup secara lahir bathin. Sedangkan pendidikan memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia,baik hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya.

Sebelum mempelajari modul filosofi pemikiran KHD, saya berpikir bahwa anak didik merupakan objek pembelajaran, menuntut anak dalam pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum, yang terlihat dari anak didik mematuhi setiap instruksi saya tanpa saya menanyakan apa model pembelajaran yang mereka inginkan. Dahulu saya berpikir bahwa  jika ada anak yang tidak mengumpulkan tugas berarti mereka dikatakan pemalas dan susah diatur. Saya juga sering mengeluh mengapa mereka lambat sekali dalam memahami materi pelajaran yang diberikan dan mengerjakan soal latihan yang diberikan padahal materi dan soal yang diberikan sangat mudah. Selain itu, saya juga  berpikir bahwa anak itu ibarat kertas kosong dan saya bisa mengisi atau menulis kertas tersebut sesuai dengan apa yang saya inginkan.    

Setelah memahami konsep pemikiran KHD tentang pendidikan maka konsep pengajaran saya berubah. Saya mengubah cara pandang saya terhadap murid. Murid adalah subjek bukan objek.Saya menyadari selama ini memandang anak didik sebagai objek dalam pembelajaran. Seharusnya anak menjadi subjek pembelajaran. Perubahan yang saya rasakan dari mempelajari filosofi kihajar dewantara sistem “among”. Proses pembelajaran di kelas bertujuan untuk  mendidik anak sebagai subjek bukan objek. Dalam Pendidikan tidak menghendaki paksaan -paksaan, melainkan memberi tuntunan bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan selamat, baik lahir maupun bathinnya. Kemudian menyadari bahwa setiap anak istimewa, unik, dan memiliki potensi dalam dirinya. Pendidikan berperan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuh anak. Hidup tumbuh anak terletak diluar kecakapan/kehendak pendidik. Anak sebagai makhluk.benda hidup, manusia sehingga mereka hidup dengan kodrat sendiri. Kita sebagai pendidik hanya bisa memperbaiki/mengubah lakunya,bukan dasarnya. KHD menyatakan bahwa tujuan pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai maanusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidik ibarat petani yang menanam benih,menyangi rumput liarnya, memupuknya, memberi pengairan dan pencahayaan yang baik, namun tumbuh kembangnya benih sesuai dengan keadaan benih itu sendiri.

Setelah mempelajari pemikiran KHD,  ternyata pemahaman saya tentang “anak itu ibarat kertas kosong” itu juga keliru, “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa” . Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan). Bagaimana cara menebalkannya? Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak dan sosio-kultural/budaya, Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak, Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural. Dalam sistem”among” atau menuntun , anak didik di sekolah disesuaikan dengan bakat dan minatnya. Pendidik memberikan kebebasan pada anak dalam memilih gaya belajar yang mereka sukai. Dari yang sebelumnya hanya menuruti instruksi atau keinginan pendidik berubah menjadi merdeka belajar.

Pengajaran yang dilakukan di sekolah disesuaikan dengan mengikuti kodrat alamiah anak dan kodrat zamannya.  Kodrat alam, yakni berupa sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada sedangkan kodrat zaman yakni berupa isi/materi/konten/muatan yang dapat diadopsi yang harus diseleksi dan diselaraskan dengan kearifan lokal bangsa Indonesia. Pada saat ini anak dituntut untuk menguasai kecakapan keterampilan Abad 21 maka KHD juga mengingatkan akan didikan anak sesuaikan dengan tuntutan alam dan zamannya namun tetap diseleksi dan diselaraskan dengan budaya bangsa kita. Tujuan utama merdeka belajar agar anak Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berprilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila atau membentuk profil pelajar Pancasila dengan enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Tujuan utama merdeka belajar agar anak Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berprilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila atau membentuk profil pelajar Pancasila dengan enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Sehingga pemahaman KHD sangat pas diterapkan di masa sekarang sesuai dengan semboyannya: Ing ngarsa sung tulada yang artinya pendidik berada didepan memberi teladan kepada anak didiknya. Ing madya mangun karsa yakni pendidik berada ditengah mampu membangkitkan semangat anak didiknya dan tut wuri handayani yang berarti pendidik berada di belakang, mengikuti dan mengarahkan anak didik agar berani di depan dan sanggup bertanggung jawab. Cara mengajar dan mendidik  menggunakan semboyan Pendidikan artinya membimbing anak dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan anak. Dengan menggunakan dasar kekeluargaan, dalam metode among antara murid dan guru sangat erat. Semboyan memanusiakan manusia, kita sebagai pendidik hanya dapat menuntun pertumbuhan atau hidupnya kekuatan-kekuatan anak tersebut, agar ia dapat memperbaiki lakunya (bukan) hidup dan tumbuhnya. Pendidik itu ibarat petani sedangkan siswa sebagai benihnya. Pendidik hanya menanamnya ditanah yang subur, memupuknya, memberi pencahayaan yang baik, pencahayaan yang optimal, merawat dengan sepenuh hati maka benih tersebut akan tumbuh menjadi tanaman berkualitas baik pula, Jika dianalogikan dalam sistem tata surya maka planet-planet di anggap sebagai siswa yang memiliki dan kecepatan gerak yang berbeda- beda. Perbedaan inilah yang menyebabkan tetap berlangsung kehidupan di alam ini  sesuai dengan ketentuan kodratnya dan begitu juga sebaliknya. Pendidikan sebagai tempat persemaian benih kebudayaan. Pendidik sebagai pamong, tuntunan terhadap perjalanan anak didiknya hingga ia menemukan kemerdekaan belajarnya, mewaspadai perubahan zaman dan membantu anak didiknya mengambil sisi positif dari perubahan yang datang yang diselaraskan dengan budaya bangsa.  KHD menyatakan budi pekerti/karakter/watak adalah perpaduan antara gerak pikiran,perasaan dan kehendak sehingga menimbulkan tenaga. karakter jsebagai perpaduan antara cipta ( kognitif), karsa (afektif) dan karya (psikomotor). KHD menyebutkan beberapa fungsi keluarga bagi pembentukan karakter anak, yaitu: 1. tempat utama untuk melatih pendidikan sosial/karakter 2. tempat melatihnya kecerdasan budi pekerti (watak) umtuk mempersiapkan hidup dalam bermasyarakat. 3. tempat untuk mendapatkan teladan/tuntutan/pengajaran dari orangtua 4. tempat berinteraksi sosial dengan anggota keluarga 5. tempat melatih terbentuknya kemandirian dalam menyelesaikan persoalan. Peran orangtua sebagai guru, penuntun,pemberi teladan dalam pembentukan karakter anak

Hal yang bisa saya terapkan di kelas agar mencerminkan pemikiran KHD yaitu Langkah awalnya dengan melakukan diagnosa nonkognitif tentang gaya belajar dan model pembelajaran yang diinginkan/sesuai. Menyadari tiap anak memiliki keunikan, walaupun beberapa anak tidak memiliki ketertarikan akan suatu mata pelajaran pasti dalam dirinya ada keistimewaan. Menggali potensi anak melalui kegiatan ekstrakurikuler. Mengintegrasikan budaya lokal dalam kegiatan di sekolah. Menggali ide ide kreatif dengan mengintegrasikan permainan-pemainan tradisional dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan sekolah seperti di daerah riau, adanya permainan takraw, layangan waw,  dan lain nya untuk mengadakan interaksi antar anak. Dan Ketika belajar di dalam kelas bisa diselingi dengan permainan dan simulasi agar anak didik tidak bosan.Nah dari paparan tersebut, tentunya untuk mewujudkan Pendidikan berdasarkan sistem “Among” Saya memerlukan dukungan dari berbagai pihak.  Saya harus Berkolaborasi atau bekerjasama dengan rekan guru di sekolah, pihak sekolah, orangtua peserta didik serta masyarakat setempat dalam hal perbaikan kearah yang lebih baik dalam pemikiran, paradigma, sudut pandang proses pembelajaran dikelas selama ini yang telah salah kita lakukan, demi terwujudnya kemerdekaan belajar dalam upaya membentuk pelajar berjiwa Pancasila.

       


Oleh: Desi Suryanti, CGP Angkatan 5 Kota Dumai