Kamis, 09 Juni 2022

 

PENERAPAN FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA DALAM “MERDEKA BELAJAR”


A.    Latar Belakang

Perkembangan zaman yang selalu berubah menuntut peserta didik memiliki keterampilan abad 21, yaitu kreatif, kritis, kolaborasi dan komunikasi. Pembelajaran konvensional tidak mampu dan tidak sesuai diterapkan dalam pembelajaran saat ini mengingat bahwa peserta didik harus memiliki rasa aman, nyaman, tenang dan damai selama belajar. Pembelajaran konvensional hanya menitikberatkan pada pembelajaran yang bepusat pada guru. Kondisi seperti ini masih terjadi pada beberapa guru di SMPN 2 Dumai. Guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pembelajaran sehingga lebih berpusat pada guru (teacher centre). Padahal, tidak semua materi dapat diajarkan dengan menggunakan metode dan teknik yang sama.

Proses pembelajaran yang berkaitan dengan materi (konten) di sekolah masih sangat tergantung dengan materi dalam paket buku, saat ini belum sepenuhnya terlaksana pembelajaran kontekstual dengan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Selain itu, sikap sebagian besar peserta didik menggambarkan tergerusnya nilai-nilai etika kearifan lokal. Oleh sebab itu, Aksi Nyata yang saya lakukan dengan judul “Merdeka Belajar melalui Pembelajaran Kontekstual”.

 Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya  kekuatan kodrat anak. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaanya dalam belajar. 

Makna merdeka belajar menggambarkan bahwa pembelajaran memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam memilih materi yang akan dipelajarinya, bahan ajar yang akan digunakan sehingga meningkatkan daya kreatif dan kemampuan bernalar kritis peserta didik. Demikian pula, pembelajaran ini memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan sendiri guru yang akan mengajarnya, sehingga meningkatkan motivasi belajar dan pembelajaran akan berlangsung aktif serta menyenangkan. Dengan demikian, akan mendorong tumbuh kembangnya kemandirian dan potensi dalam diri pada peserta didik yang pada akhirnya akan mendorong tercapainya tujuan pembelajaran

Filosofi Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa Pendidikan adalah proses yang lebih peduli. Pendidikan lebih menekankan pada aspek pengembangan karakter (budi pekerti) peserta didik. Pandangan Ki Hadjar Dewantara dalam proses pengembangan karakter peserta didik, dengan memposisikan peserta didik sebagai subjek untuk menjadi kolaborasi dalam pembelajaran. Selain itu, peran seorang pendidik tergambar dari semboyan Ki Hadjar Dewantara  yaitu “ ing ngarsa sung tulada”, “ing madya mangun karsa”,  dan  “tut wuri handayani”.  Intinya bahwa seorang pendidik harus dapat menjadi penuntun, penyemangat dan tauladan yang baik bagi peserta didik. Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara sangat cocok penerapannya untuk menciptakan generasi emas. Peran sebagai seorang pendidik, semestinya hanya menuntun tumbuh kembang peserta didik sesuai dengan kodratnya.

Pada dasarnya semua manusia memiliki kodrat dari yang maha pencipta, tugas besar kita sebagai pendidik untuk menggali, menuntun dan mengembangkan potensi potensi yang dimiliki oleh anak anak agar kelak menjadi individu yang cerdas, unggul dan berkarakter yang memiliki kemampuan abad 21 yaitu berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif dan kreatif. Sementara itu, Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa penumbuhan nilai karakter dapat dijalankan melalui 4 laku yaitu : olah hati, olah raga, olah karsa dan olah pikir. Dalam pelaksanaan kegiatan sehari hari di sekolah, penanaman nilai nilai karakter dapat dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti literasi sekolah, kegiatan ekstrakurikuler kegiatan awal dan akhir pembelajaran, pembiasaan pembiasaan dan penetapan tata tertib sekolah.

Konsep belajar yang di gagas oleh Ki Hajar Dewantara merupakan konsep belajar yang memerdekakan peserta didik, agar terwujud profil pelajar pancasila dengan enam ciri utama: beriman bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergoton royong, mandiri, bernalar krit dan kreatif.  Konsep belajar Ki Hajar Dewantara di dasarkan dari sifat bawaan peserta didik, metode yang di gunakan adalah metode among yang memiliki arti menjaga mendidik dan membina bedasarkan hasil kasih sayang lingkungan belajar harus saling terkait anatara lembaga pendidikan di dalam keluarga, masyarakat dan sekolah.


B.    Tujuan 

Adapun tujuan yang akan dicapai yaitu:

a.     Melalui kebebasan dalam menentukan sendiri materi dan bahan ajar yang akan dipelajari, peserta didik dapat lebih kreatif dan berpikir kritis dalam bertindak.

b.   Melalui kebebasan dalam menentukan sendiri guru yang akan mengajar, peserta didik dapat lebih termotivasi dalam belajar.

c.  Melalui diskusi dalam pembelajaran, peserta didik mampu berkolaborasi dan bekerja sama serta menumbuhkan kemandirian dalam menyelesaikan tugas.

d.     Melalui latihan, peserta didik dapat menjadi lebih terampil.

e.     Menumbuhkan karakter yang baik pada siswa

f.      mewujudkan merdeka belajar agar tercapai profil pelajar pancasila 

 

C.    Tolok Ukur

Adapun yang menjadi tolak ukur keberhasilan antara lain adalah sebagai berikut:

a.   Peserta didik memiliki kemampuan dalam menganalisis atau keterampilan mengaitkan satu konsep dengan konsep yang lainnya serta memberikan solusi dengan cara yang baru terhadap suatu permasalahan yang terjadi.

b.    Peserta didik memiliki motivasi yang lebih tinggi dari sebelumnya dan diwujudkan dalam peningkatan hasil belajar.

c.    Peserta didik memiliki kemampuan berkolaborasi dan kemandirian dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan

d.     Peserta didik memiliki perubahan karakter ke arah yang lebih baik dan diwujudkan dalam bentuk budi pekerti

e.     Terciptanya pembelajaran yang kreatif, parisipatif, dan rekreatif bagi murid 

f.      Tumbuhnya kreativitas murid dalam proses pembelajaran sesuai bakat, minat dan potensinya 

g.     Tumbuhnya karakter yang baik pada siswa 

 

D.    Hasil Aksi Nyata

Pada Refleksi pemikiran filosofi KHD, setelah mempelajari dan merefleksi filosofi KHD , ada beberapa pokok penting bekal sebagai CGP untuk mewujudkan merdeka belajar  yaitu yang pertama Apa yang saya percaya tentang siswa dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1. yaitu biasanya sebelumnya saya lebih dominan melakukan pembelajaran yang menuntut siswa agar mampu menguasai semua materi yang saya sampaikan dan memberikan tugas, siswa harus patuh kepada guru sebagai pusat pembelajaran ( Teacher Centered Learning), murid harus memahami semua materi ajar atau bidang studi demi mencapai ketuntasan pembelajaran (fokus pada terget pencapaian kurikulum), mengutamakan  aspek kognitif anak dibanding dengan aspek lainnya seperti aspek keterampilan dan karakternya, walaupun di dalam Kurikulum K 13 sudah ada, namun saya sering mengabaikanya, pembelajaran tertuju hanya didalam kelas (ruangan) padahal alam dan lingkungan merupakan guru yang paling baik, sesuai pepatah minang, alam takambang jadi guru, namun saya tidak menyadarinya selama ini.

Setelah mempelajari modul 1.1. ini , Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari  modul ini? saya merasa yang berubah adalah mindset bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, merubah pandangan anak sebagai subjek pembelajaran bukanlah objek pembelajaran, sebagai pendidik saya juga harus lebih cermat melihat bakat, minat anak dan menuntunnya sesuai kodrat, tidak lagi fokus menilai pada aspek kognitif saja, guru memberikan kebebasan kepada anak dalam menentukan gaya belajarnya atau menerapkan prinsip merdeka belajar, saya akhirnya menyadari bahwa siswa terlahir dengan kodratnya masing-masing dan tugas saya sebagai guru adalah membimbingnya, menuntun siswa bukan malah menuntut siswa.

Pandangan Ki Hajar Dewantara, siswa ibarat padi dalam melaksanakan pendidikan. Guru ibarat petani yang tugasnya menyebarkan benih, memberi pupuk, menyiangi rumput pengganggu, memberi pengairan dan pencahayaan yang baik, namun petani tidak bisa memaksakan benih padi menjadi tanaman lain. Hal itu juga diterapkan pada siswa. Siswa terlahir dengan bakat dan minatnya masing-masing. Guru tidak bisa memaksakan nya menjadi apa yang di inginkan atau untuk tujuan tertentu. Petani tidak boleh membedakan dari mana asal padi, asal pupuk dan hal lainnya, karena bakat dan minat anak begitu beragam dan berbeda-beda namun mereka memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas atas kemauannya sendiri. Ibarat planet-planet di barisan tata surya, mereka memiliki kecepatannya sendiri untuk mengelilingi matahari. Disinilah terjadi nya keselarasan ataupun keseimbangan di alam, begitu juga siswa kita, biarkan mereka maju dengan kecepatannya sendiri, tanpa paksaan dari guru.

Langkah konkrit apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara? yang pertama yang akan saya kerjakan yaitu membuat kesepakatan kelas bersama siswa sebagai salah satu wujud merdeka belajar, membuat budaya belajar besama sebagai wujud menghargai nilai budaya, sebagai guru saya harus lebih among lagi dalam menuntun semua kodrat yang ada pada anak, mengintegrasikan bermain itu adalah belajar, namun bermain disini harus di sesuaikan dengan tingkat satuan sekolahnya dan yang terpenting segera merubah gaya pembelajaran saya student Centered Learning. pemikiran KHD ini selaras dengan penerapan kompetensi pelajar abad 21 yaitu berpikir kritis (critical thingking), kreatifitas (creativity), komunikasi (comunication) dan berkolaborasi atau bekerjasama( collaboration).

Hasil dari aksi nyata yang dilakukan adalah sebagai berikut: adanya peningkatan motivasi belajar peserta didik., interaksi guru dan peserta didik menjadi lebih dekat, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif peserta didik. Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan aksi nyata yang dilakukan antara lain pembelajaran yang dilakukan  mampu meningkatkan kerja sama atau kolaborasi antar peserta didik, mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik, meningkatkan hubungan yang lebih baik antar guru dan peserta didik sehingga komunikasi efektif tercipta. Peserta didik berhasil menyelesaikan proyek yang diberikan tepat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik telah mampu bersikap disiplin, tanggung jawab, dan mampu berpikir kritis, kreatif, mandiri.. Masih ada peserta didik yang kurang percaya diri untuk menentukan sendiri materi dan bahan ajar yang akan dipelajari.


E. Rencana Perbaikan Pelaksanaan Di Masa Mendatang

Beberapa rencana tindakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa telah dirancang rencana perbaikan pelaksanaan di masa mendatang antara lain adalah: Menyusun instrumen umpan balik dari peserta didik mengenai pembelajaran yang dilakukan, Melakukan diskusi dengan peserta didik mengenai saran atau ide yang diharapkan dalam pembelajaran, Meningkatkan rasa percaya diri peserta didik melalui refleksi dengan menjawab angket refleksi dengan jujur, Sistem Among lebih diterapkan, pembelajaran dengan asah,asih,asuh. Membuat guru mampu masuk ke hati siswanya, Melanjutkan pembelajaran inovatif, kreatif, dan menggairahkan semangat siswa, Lebih menekankan pembiasaan-pembiasaan positif seperti penanaman budi pekerti dengan melakukan hal-hal yang kecil sederhana namun dampaknya besar bagi mereka mendatang. Pengucapan budaya senyum,salam,sapa, minta maaf, terima kasih, mohon ijin, konfirmasi ketidakhadiran di sekolah, Membuka pola pikiran siswa belajar dilakukan setiap hari di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Belajar tidak hanya di sekolah di mana pun kita berada belajar pun akan selalu kita lakukan apabila bisa mengambil makna pada setiap kegiatan yang kita lakukan. Belajar bisa di rumah, lingkungan masyarakat, tempat-tempat umum. “Karena setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah”.

 F.    Dokumentasi Aksi Nyata

Beberapa dokumen tindakan  dan pelaksanaan aksi nyata yang telah dilakukan dapat dilihat pada link berikut ini.

https://sway.office.com/vE22sWYBTsHuXwEi?ref=Link

Oleh: Desi Suryanti, Guru SMPN 2 DumaiCGP Angkatan 5 Kota Dumai




Kamis, 02 Juni 2022

Artikel_Koneksi Antar Materi Filosofis Pemikiran KHD

 

Refleksi dan Kesimpulan Pemikiran Ki Hajar Dewantara



Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran merupakan bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberikan ilmu/faedah untuk kecakapan hidup secara lahir bathin. Sedangkan pendidikan memberikan tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia,baik hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya.

Sebelum mempelajari modul filosofi pemikiran KHD, saya berpikir bahwa anak didik merupakan objek pembelajaran, menuntut anak dalam pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum, yang terlihat dari anak didik mematuhi setiap instruksi saya tanpa saya menanyakan apa model pembelajaran yang mereka inginkan. Dahulu saya berpikir bahwa  jika ada anak yang tidak mengumpulkan tugas berarti mereka dikatakan pemalas dan susah diatur. Saya juga sering mengeluh mengapa mereka lambat sekali dalam memahami materi pelajaran yang diberikan dan mengerjakan soal latihan yang diberikan padahal materi dan soal yang diberikan sangat mudah. Selain itu, saya juga  berpikir bahwa anak itu ibarat kertas kosong dan saya bisa mengisi atau menulis kertas tersebut sesuai dengan apa yang saya inginkan.    

Setelah memahami konsep pemikiran KHD tentang pendidikan maka konsep pengajaran saya berubah. Saya mengubah cara pandang saya terhadap murid. Murid adalah subjek bukan objek.Saya menyadari selama ini memandang anak didik sebagai objek dalam pembelajaran. Seharusnya anak menjadi subjek pembelajaran. Perubahan yang saya rasakan dari mempelajari filosofi kihajar dewantara sistem “among”. Proses pembelajaran di kelas bertujuan untuk  mendidik anak sebagai subjek bukan objek. Dalam Pendidikan tidak menghendaki paksaan -paksaan, melainkan memberi tuntunan bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan selamat, baik lahir maupun bathinnya. Kemudian menyadari bahwa setiap anak istimewa, unik, dan memiliki potensi dalam dirinya. Pendidikan berperan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuh anak. Hidup tumbuh anak terletak diluar kecakapan/kehendak pendidik. Anak sebagai makhluk.benda hidup, manusia sehingga mereka hidup dengan kodrat sendiri. Kita sebagai pendidik hanya bisa memperbaiki/mengubah lakunya,bukan dasarnya. KHD menyatakan bahwa tujuan pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai maanusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidik ibarat petani yang menanam benih,menyangi rumput liarnya, memupuknya, memberi pengairan dan pencahayaan yang baik, namun tumbuh kembangnya benih sesuai dengan keadaan benih itu sendiri.

Setelah mempelajari pemikiran KHD,  ternyata pemahaman saya tentang “anak itu ibarat kertas kosong” itu juga keliru, “Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa” . Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan). Bagaimana cara menebalkannya? Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak dan sosio-kultural/budaya, Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak, Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural. Dalam sistem”among” atau menuntun , anak didik di sekolah disesuaikan dengan bakat dan minatnya. Pendidik memberikan kebebasan pada anak dalam memilih gaya belajar yang mereka sukai. Dari yang sebelumnya hanya menuruti instruksi atau keinginan pendidik berubah menjadi merdeka belajar.

Pengajaran yang dilakukan di sekolah disesuaikan dengan mengikuti kodrat alamiah anak dan kodrat zamannya.  Kodrat alam, yakni berupa sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada sedangkan kodrat zaman yakni berupa isi/materi/konten/muatan yang dapat diadopsi yang harus diseleksi dan diselaraskan dengan kearifan lokal bangsa Indonesia. Pada saat ini anak dituntut untuk menguasai kecakapan keterampilan Abad 21 maka KHD juga mengingatkan akan didikan anak sesuaikan dengan tuntutan alam dan zamannya namun tetap diseleksi dan diselaraskan dengan budaya bangsa kita. Tujuan utama merdeka belajar agar anak Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berprilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila atau membentuk profil pelajar Pancasila dengan enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Tujuan utama merdeka belajar agar anak Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berprilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila atau membentuk profil pelajar Pancasila dengan enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Sehingga pemahaman KHD sangat pas diterapkan di masa sekarang sesuai dengan semboyannya: Ing ngarsa sung tulada yang artinya pendidik berada didepan memberi teladan kepada anak didiknya. Ing madya mangun karsa yakni pendidik berada ditengah mampu membangkitkan semangat anak didiknya dan tut wuri handayani yang berarti pendidik berada di belakang, mengikuti dan mengarahkan anak didik agar berani di depan dan sanggup bertanggung jawab. Cara mengajar dan mendidik  menggunakan semboyan Pendidikan artinya membimbing anak dengan penuh kecintaan dan mendahulukan kepentingan anak. Dengan menggunakan dasar kekeluargaan, dalam metode among antara murid dan guru sangat erat. Semboyan memanusiakan manusia, kita sebagai pendidik hanya dapat menuntun pertumbuhan atau hidupnya kekuatan-kekuatan anak tersebut, agar ia dapat memperbaiki lakunya (bukan) hidup dan tumbuhnya. Pendidik itu ibarat petani sedangkan siswa sebagai benihnya. Pendidik hanya menanamnya ditanah yang subur, memupuknya, memberi pencahayaan yang baik, pencahayaan yang optimal, merawat dengan sepenuh hati maka benih tersebut akan tumbuh menjadi tanaman berkualitas baik pula, Jika dianalogikan dalam sistem tata surya maka planet-planet di anggap sebagai siswa yang memiliki dan kecepatan gerak yang berbeda- beda. Perbedaan inilah yang menyebabkan tetap berlangsung kehidupan di alam ini  sesuai dengan ketentuan kodratnya dan begitu juga sebaliknya. Pendidikan sebagai tempat persemaian benih kebudayaan. Pendidik sebagai pamong, tuntunan terhadap perjalanan anak didiknya hingga ia menemukan kemerdekaan belajarnya, mewaspadai perubahan zaman dan membantu anak didiknya mengambil sisi positif dari perubahan yang datang yang diselaraskan dengan budaya bangsa.  KHD menyatakan budi pekerti/karakter/watak adalah perpaduan antara gerak pikiran,perasaan dan kehendak sehingga menimbulkan tenaga. karakter jsebagai perpaduan antara cipta ( kognitif), karsa (afektif) dan karya (psikomotor). KHD menyebutkan beberapa fungsi keluarga bagi pembentukan karakter anak, yaitu: 1. tempat utama untuk melatih pendidikan sosial/karakter 2. tempat melatihnya kecerdasan budi pekerti (watak) umtuk mempersiapkan hidup dalam bermasyarakat. 3. tempat untuk mendapatkan teladan/tuntutan/pengajaran dari orangtua 4. tempat berinteraksi sosial dengan anggota keluarga 5. tempat melatih terbentuknya kemandirian dalam menyelesaikan persoalan. Peran orangtua sebagai guru, penuntun,pemberi teladan dalam pembentukan karakter anak

Hal yang bisa saya terapkan di kelas agar mencerminkan pemikiran KHD yaitu Langkah awalnya dengan melakukan diagnosa nonkognitif tentang gaya belajar dan model pembelajaran yang diinginkan/sesuai. Menyadari tiap anak memiliki keunikan, walaupun beberapa anak tidak memiliki ketertarikan akan suatu mata pelajaran pasti dalam dirinya ada keistimewaan. Menggali potensi anak melalui kegiatan ekstrakurikuler. Mengintegrasikan budaya lokal dalam kegiatan di sekolah. Menggali ide ide kreatif dengan mengintegrasikan permainan-pemainan tradisional dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan sekolah seperti di daerah riau, adanya permainan takraw, layangan waw,  dan lain nya untuk mengadakan interaksi antar anak. Dan Ketika belajar di dalam kelas bisa diselingi dengan permainan dan simulasi agar anak didik tidak bosan.Nah dari paparan tersebut, tentunya untuk mewujudkan Pendidikan berdasarkan sistem “Among” Saya memerlukan dukungan dari berbagai pihak.  Saya harus Berkolaborasi atau bekerjasama dengan rekan guru di sekolah, pihak sekolah, orangtua peserta didik serta masyarakat setempat dalam hal perbaikan kearah yang lebih baik dalam pemikiran, paradigma, sudut pandang proses pembelajaran dikelas selama ini yang telah salah kita lakukan, demi terwujudnya kemerdekaan belajar dalam upaya membentuk pelajar berjiwa Pancasila.

       


Oleh: Desi Suryanti, CGP Angkatan 5 Kota Dumai

 


 

 

Sabtu, 09 Maret 2019

Soal Online

Silakan kerjakan soal-soal berikut ini:


My School

SMPN 2 Dumai adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri yang berlokasi di Propinsi Riau Kabupaten Kota Dumai dengan alamat Jl. Sultan Syarif Qasim Kel.Teluk Binjai Kec.Dumai Timur.

Silabus IPA Kelas 7

RPP IPA Kelas 7 Semester 2

Sagusablog

Sagusablog adalah salah satu kegiatan pembuatan media pembelajaran berbasis blog yang menarik, interaktif dan menyenangkan. Mengajak guru-guru Indonesia untuk memperkaya dunia internet dengan konten pendidikan, serta memberi informasi-informasi dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.