Sabtu, 09 Maret 2019

Model Pembelajaran IPA

Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL)

Sains merupakan sebuah cara untuk menjelaskan hakikat dunia. Istilah lainnya sains adalah sebuah akumulasi dari praktik dan pengetahuan sebelumnya. Esensi dari pendidikan sains yaitu pembelajaran ilmiah, praktik atau latihan serta mengembangkan pengetahuan dari suatu konsep sebagai dasar ilmu sains itu sendiri. Selain itu, peserta didik harus dapat mengembangkan pemahaman tentang ilmu pengetahuan secara menyeluruh melalui penyelidikan, pengumpulan data dan analisis.
Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian mengatakan bahwa seorang pendidik untuk menilai kompetensi keterampilan melalaui penilaian kinerja yaitu penilaian yang menuntut siswa mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, proyek dan penilaian portofolio. Untuk mendorong kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis proyek (project based learning).

Pembelajaran berbasis proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. 

Sehubungan dengan hal tersebut, perlu pemahaman mengenai konsep atau definisi model pembelajaran berbasis proyek, ciri-ciri atau karakteristik model pembelajaran berbasis proyek, langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek serta kelebihan model pembelajaran berbasis proyek juga contoh penerapan model pembelajaran berbasis proyek. Ikuti pembahasan lebih lanjut mengenai model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) berikut ini. 


A. Pengertian PjBL (Project Based Learning) 


Project based learning bermakna sebagai pembelajaran berbasis proyek. Menurut Patton (2012) pembelajaran berbasis proyek mengacu pada siswa mendesain, merencanakan dan melaksanakan proyek yang menghasilkan output publik yang dipamerkan seperti produk, publikasi atau presentasi. Hal ini terkait dengan pembelajaran berbasis inquiry (juga dikenal sebagai inquiry berbasis pembelajaran), dan pembelajaran berbasis masalah. Ciri khas dari project based learning ini adalah adanya output yang dapat dipamerkan atau ditunjukkan kepada publik. 

Project based learning adalah model pembelajaran yang menuntut pengajar dan atau peserta didik mengembangkan pertanyaan penuntun (a guiding question). Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka project based learning memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Hal ini memungkinkan setiap peserta didik pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan penuntun (Lucas, 2005). 

PjBL berisi tugas-tugas kompleks, berdasarkan pertanyaan atau masalah yang menantang dan melibatkan siswa mulai dari desain, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau kegiatan investigasi serta memberikan kesempatan pada siswa untuk siswa untuk bekerja relatif mandiri dalam waktu yang lama yang berujung pada produk atau presentasi realistis Thomas (1999). 

PjBL mampu membuat perubahan besar dalam kehidupan siswa di sekolah. Siswa mampu mengembangkan diri dan bertanggung jawab selama proses pembelajaran, harga diri dan kepercayaan diri siswa juga meningkat. Pemberian tantangan dalam pembelajaran menyebabkan siswa merasakan suatu keberhasilan dalam waktu yang lama (Doppelt, 2003).

Melalui PjBL siswa mengembangkan pertanyaan mereka sendiri dalam mengembangkan pembelajaran, konsep dan informasi yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, serta menerapkan pengetahuan tersebut bagi produk yang mereka kembangkan. Selain itu, PjBL mendorong siswa belajar lebih ketat karena memerlukan untuk peran aktif dalam memahami konsep dan konten, serta memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21, yang berdasarkan rasa ingin tahu.

Model pembelajaran  PjBL, selain membuat siswa mampu menerapkan konten pelajaran ke dalam fenomena kehidupan nyata, juga dapat memfasilitasi eksplorasi karir, penggunaan teknologi, koneksi masyarakat, dan relevansi konten lain (Blumenfeld, Soloway, Marx, Krajcik, Guzdial, & Palincsar, 1994). 
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran Project Based Learning (PjBL) merupakan pembelajaran yang menekankan kreatifitas peserta didik yang berakhir pada suatu hasil atau produk yang berasal dari akumulasi pengetahuan dan pengalaman siswa sebelumnya, sehingga pembelajaran ini membutuhkan kolaborasi yang baik antara siswa-siswa dan siswa-guru. Pembelajaran ini memiliki tujuan melibatkan siswa melalui mengeksplorasi isu-isu dunia nyata dan memecahkan masalah-masalah praktis. 



B. Karakteristik Project Based Learning (PjBL) 


Ciri-ciri pembelajaran berbasis proyek menurut materi pelatihan kurikulum 2013: 

a) Adanya permasalahan atau tantangan kompleks yang diajukan ke siswa; 

b) Siswa mendesain proses penyelesaian permasalahan atau tantangan yang diajukan 

     dengan menggunakan penyelidikan; 

c) Siswa mempelajari dan menerapkan keterampilan serta pengetahuan yang dimilikinya 

   dalam berbagai konteks ketika mengerjakan proyek; 

d) Siswa bekerja dalam tim kooperatif demikian juga pada saat mendiskusikannya dengan guru; 

e) Siswa mempraktekkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan dewasa mereka          dan karir (bagaimana mengalokasikan waktu, menjadi individu yang bertanggungjawab,                      keterampilan pribadi, belajar melalui pengalaman); 

f) Siswa secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan; 

g) Produk akhir siswa dalam mengerjakan proyek akan dievaluasi 



C. Langkah-langkah Dalam Pembelajaran 


Doppelt membagi langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek menjadi 6 bagian, yakni: 

a) Design Project (mendesain proyek) 

     Para siswa perlu mendesain tujuan, tujuan tersebut harus sesuai defenisi dari permasalahan. 

b) Field of Inquiry (penelitian lapangan) 

     Melakukan observasi sesuai tujuan. Observasi ini bisa dilakukan dengan mencari sumber                     membaca buku, internet atau melihat langsung ke lapangan. 

c) Solution Alternative (solusi alternatif) 

    Mempertimbangkan solusi alternatif untuk masalah desain. Strategi ini memungkinkan siswa untuk membuat segalam macam kemungkinan atau ide kreatif yang tak pernah dicoba sebelumnya. 

d) Choosing the Preferred Solution (memilih salah satu solusi altenatif) 

Memilih salah satu solusi alternatif yang dibuat, pilihan dilakukan dengan mempertimbangkan gagasan yang didokumentasikan dalam tahap ketiga. 

e) Operation Steps (melaksankan setiap tahapan) 

Merencanakan metode untuk implementasi solusi yang dipilih misalnya jadwal, ketersediaan bahan, komponen, alat dan menciptakan prototype. 

f) Evaluation (evaluasi) 
   Tahap evaluasi terjadi pada akhir proses kegiatan, tujuannya untuk refleksi kegiatan berikutnya. 

Langkah-langkah PjBL dalam pembelajaran ada 5  menurut Lucas (2005) , yaitu sebagai berikut: 

a) Start With the Essential Question 

Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relefan untuk para peserta didik 

b) Design a Plan for the Project 

Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek. 

c) Create a Schedule 

Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyak, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara. 

d) Monitor the Students and the Progress of the Project 

Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting. 

e) Assess the Outcome 

Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. 

f) Evaluate the Experience 

Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran. 


D. Kekuatan Dan Kelemahan PjBL


Menurut Kemendikbud (2013) kekuatan dari penerapan PjBL diantaranya : 

1) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting dan mereka perlu untuk dihargai 

2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah 

3) Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan masalah yang kompleks 

4) Meningkatkan kolaborasi 

5) Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi 

6) Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber 

7) Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik menginderaisasi proyek dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber yang lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas 

8) Menyediakan pengalaman mengajar yang melibatkan peserta didik secara komples dan diracang untuk berkembang sesuai dunia nyata 

9) Melibatkan peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata 

10) Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik meningkat proses pembelajaran 

Adapun kelemahan dari penerapan PjBL meliputi : 

1) Memerlukan banyak waktu 

2) Membutuhkan biaya yang cukup banyak 

3) Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana instruktur memegang peran utama di kelas 

4) Banyaknya peralatan yang harus disediakan 

5) Peserta didik yang kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan data informasi akan mengalami kesulitan 

6) Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam bekerja kelompok 

7) Ketika topik yang diberikan masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan 

E. Bentuk Penilaian pada Pembelajaran Berbasis Proyek (project based learning) 

Widyantini (2014) menguraikan ada 3 hal yang perlu dipertimbangakan dalam menilai sebuah proyek yaitu sebagai berikut: 

a) Kemampuan pengelolaan yaitu kemampuan siswa dalam memilih topik apabila belum ditentukan oleh guru, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan, 

b) Relevansi yaitu kesesuaian dengan mata pelajaran dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran) 

c) Keaslian yaitu proyek yang dilakukan siswa harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek siswa. 

Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir proyek. Untuk itu, pendidik perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan desain, pengumpulan data, analisis data, dan penyiapan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek atau skala penilaian. 


F. Mendesain Sebuah Proyek di Kelas 

Dalam panduannya berjudul Work that matters (The teacher’s guide to project-based learning) tahun 2012, Patton menguraikan bagaimana mendesain sebuah proyek kelas. Dimulai dari get an idea, design the project, tune the project, do the project dan exhibit the project. 

1) Get an idea (mendapatkan ide) 

Profesi yang berbeda memiliki cara yang berbeda dalam memandang dunia: penulis melihat dunia penuh dengan cerita, arsitek melihat dunia dari struktur untuk ditiru dan ruang yang akan dibangun serta guru yang melakukan pembelajaran berbasis proyek melihat dunia penuh proyek. 

- Pentingnya hasil akhir. Hasil akhir dari sebuah proyek, yang mungkin menjadi produk (seperti mesin atau karya seni), kinerja (seperti teater atau debat), atau layanan (seperti memberikan pelajaran kepada siswa yang lebih muda), akan menciptakan fokus pada siswa untuk mengerjakan proyek tersebut. 

- Merancang sebuah proyek berdasarkan isi kurikulum. Guru sebaiknya dapat merancang proyek sehingga mereka membantu siswa untuk menguasai konten yang mereka diwajibkan untuk belajar. 

- Setelah memiliki ide, ada tiga pertanyaan penting yang harus tanyakan pada diri sendiri yakni apakah proyek ini melibatkan siswa? Apakah proyek melibatkan saya? Apakah siswa saya belajar sesuatu yang berarti dari proyek ini? 

- Membawa pertanyaan penting. Proyek-proyek terbaik selalu mengandung 'pertanyaan penting' yang baik mengilhami dan menuntut siswa untuk melakukan penelitian yang serius. Ada tiga kriteria dalam menyusun pertanyaan penting yang menarik: 

• Pertanyaan tersebut adalah sesuatu yang orang sering tanyakan di 

'dunia nyata' 

• Pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang mudah sehingga 

mengembangkan intelektual siswa. 

• Pertanyaan tersebut menyatu imajinasi siswa. 

- Berdiskusi dengan rekan kerja. Semakin banyak meminta pendapat dari rekan-rekan anda, semakin baik pula proyek anda. 

2) Design the project (desain proyek) 

- Putuskan apa yang ingin siswa anda pelajari dan rencana sebelumnya dari sana. Tulislah segala pelajaran apa yang Anda harapkan siswa Anda dari melakukan proyek ini. Hal ini dapat mencakup segala macam hal seperti pengetahuan konten, keterampilan seperti bekerja dalam tim, kemampuan mengkritisi, ketrampilan khusus misalnya kepercayaan diri siswa. 

- Melalukan proyek sendiri sebelum diberikan pada siswa, kecuali proyek-proyek tersebut memberikan kebebasan pada siswa untuk memilih tema dan medianya. 

- Membuat perencanaan proyek dalam bentuk lembar proyek. Jangan lupa menuliskan siapa-siapa saja yang akan melihat proyek ini, orang tua, guru atau masyarakat umum. 

- Mengerjakan proyek dalam batas waktu tertentu. Ini merupakan salah satu struktur yang paling penting dimana ketika guru membebankan proyek pada siswa, maka proyek tersebut harus memiliki batas waktu yang jelas, sehingga siswa tahu kapan proyek itu diselesaikan dan dikumpulkan. Jika memungkinkan, posting jadwal proyek tersebut jadi siswa, orang tua, dan anggota staf lainnya dapat memeriksa kapan saja mereka perlu. 

- Merencanakan penilaian. Penilaian bukanlah sesuatu yang terjadi sekali yaitu saat akhir proyek namun guru dapat menilai karya siswa selama proses berlangsung. Gunakanlah beberapa konsep dalam penilaian. 

- Penilaian akhir. Penilaian akhir guru akan fokus pada hasil produk akhir. Jika guru telah menetapkan kriteria penilaian, seperti dijelaskan di atas, ini akan menjadi cukup mudah. Ingatlah bahwa tidak semua siswa perlu untuk menghasilkan produk yang sama dalam suatu pembelajaran. Penilaian tambahan juga dapat dilakukan jika perlu misalnya seperti ujian tertulis. 

Anda mungkin ingin memiliki penilaian yang terpisah dari pengetahuan, seperti ujian. Salah satu cara yang efektif untuk melakukan ujian tertulis berdasarkan proyek adalah dengan membuat pertanyaan yang mencakup semua informasi yang disajikan oleh semua kelompok selama proyek. Ini akan memastikan bahwa siswa belajar semua konten serta mereka dapat mempelajari karya masing-masing secara intensif. 

- Sumber penilaian. Memiliki data penilaian dari berbagai sumber adalah hal penting dalam pembelajaran berbasis proyek. Sumber-sumber penilaian tersebut meliputi penilaian guru itu sendiri, penilaian rekan kelompok lain, penilaian guru lain dan penilaian penonton (publik). 

- Personalisasi proyek. Guru dapat melakukan pembelajaran berbasis proyek dengan seluruh elemen kemampuan siswa dari segala usia. Pada kenyataannya, pembelajaran berbasis proyek dapat menyoroti siswa dari berbagai macam bakat dibandingkan pembelajaran tradisional. 

- Pastikan bahwa proyek yang dilakukan bermanfaat bagi seluruh siswa di kelas. Sebuah proyek yang baik dapat menuntut siswa untuk melakukan penelitian yang mendalam ke arah kurikulum. Selain memastikan bahwa dengan proyek siswa mengembangkan kemampuannya dan penting juga dalam suatu kelompok selama proyek sebaiknya siswa yang sama tidak mengisi peran yang sama dari proyek ke proyek. 

- Checklist. Di akhir desain, guru melihat kembali hasil desain proyeknya. Beberapa hal yang harus dimiliki guru setelah selesai mendesain proyek adalah: Model dari produk yang akan siswa kerjakan, sebuah rencana proyek penuh, sebuah jadwal (timeline) proyek dan lembaran promosi proyek untuk orang tua dan pihak dari luar sekolah lengkap beserta rencana pameran dan bentuk penilaian. 

3) Tune the Project (mempresentasikan proyek) 

Setelah selesai dengan desain proyek, maka saatnya untuk sesi presentasi. Disini guru yang bersangkutan menyajikan desain proyek kepada guru-guru lain di sekolah. Guru lain akan memberikan masukan, ide atau komentar mengenai proyek tersebut sehingga jika ada masalah yang ditemukan dapat diantisipasi sejak awal. Hal-hal yang disiapkan saat presentasi proyek adalah desain proyek secara utuh, jadwal proyek, dan model dari proyek. Selain itu, guru sebaiknya menetapkan aturan main yang ada dalam proyek, jadi ketika ada rekan guru yang ingin bergabung untuk membantu proyek tersebut, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan. 

4) Do the Project (mengerjakan proyek) 

- Libatkan siswa. Ada banyak cara untuk memulai sebuah proyek, salah satunya dengan memberikan siswa kesempatan berbicara mengenai proyek yang diusulkan oleh guru. 

- Tunjukkan model seperti apa yang guru harapkan dari proyek siswa sehingga hasilnya tidak akan jauh dari perkiraan. 

- Memantau proses dan ingatlah untuk menyimpan data sejauh mana siswa mengerjakan proyeknya. 

5) Exhibit the Project (pameran proyek) 

Pemesanan tempat pameran harus menjadi salah satu hal pertama yang Anda lakukan ketika Anda berencana sebuah proyek. Ada banyak kemungkinan tempat untuk pameran seperti misalnya museum, galeri, taman, kafe, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Setelah memesan tempat, kemudian rencanakan bagaimana Anda siswa akan mengiklankan acara tersebut. 

- Mempromosikan pameran. Promosi adalah bagian dari proyek dan siswa akan mencurahkan segala waktunya jika pameran ini akan dihadiri banyak orang. Banyak cara memspromosikanuatu misalnya, mereka lewat poster, selebaran, jejaring sosial, dan stasiun radio dan televisi lokal. 

- Menetapkan peran untuk hari pameran. Setelah mengamankan tempat dan membuat jadwal bagi siswa menjalankan promosi, guru dapat mulai berpikir tentang acara itu sendiri. Cara terbaik merancang sebuah pameran adalah untuk mulai dengan berpikir tentang membagi peran orang-orang yang terlibat misalnya menempatkan pembawa acara, pengelola penonton dan sebagainya. 

- Ketika pameran dimulai, sebagian besar waktu dan tanggung jawab diberikan pada siswa. 

- Arsipkan proyek siswa anda. Produk hasil karya siswa anda tahun ini kemungkinan akan dijadikan model untuk proyek berikutnya tahun mendatang, sehingga diperlukannya dokumentasi serta arsip dari siswa anda. 

- Jangan menyerah. Terdapat beberapa kendala atau hambatan yang tidak mungkin tidak terjadi dalam mengerjakan suatu proyek. Banyak berdiskusi dan meminta kritik-saran dari rekan guru, siswa dan masyarakat merupakan salah satu cara mengantisipasi dan memininalisir masalah yang kemungkinan terjadi. Jadi dimasa mendatang masalah tersebut tidak akan terulang. 



DAFTAR PUSTAKA 

Doppelt, Y. 2003. Implementation and Assessment of Project Based Learning in Flexible 

Environment. International Journal of Technology and Design Education 13, 255-272. 

Kemdikbub. (2013). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. BPSDMPK dan 

PMP: Jakarta. 

Patton, Alec. 2012. Work that matters (The teacher’s guide to project-based learning). Paul 

Hamlyn Foundation. 

Widyantini, Theresia. 2014. Penerapan Model Project Based Learning (Model Pembelajaran 

Berbasis Proyek) dalam Materi Pola Bilangan Kelas VII. Artikel. Pusat Pengembangan 

dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika. 

The George Lucas Educational Foundation .(2005). Instructional Module Project Based 

Learning. Diakses pada tanggal 20 November 2016 dari 


Blumenfeld, P. C., Krajcik, J. S., Marx, R. W., & Soloway, E. (1994). Lessons learned: How 

collaboration helped middle grade science teachers learn project-based instruction. The 

Elementary School Journal, 94(5), 539–51. http://dx.doi.org/10.1086/461782

2 komentar: